EDY PUTRA jepara Jl.cik lanang Nm.62 Rt.04/05Kauman Jepara jateng-59417. CALL; +6281904645456 , +6281390345437. E-mail ; edy_putra@ymail.com , edyputrajepara@gmail.com Malayani ; LAS , BODY REPAER MOBIL , MESIN , CAT , JASA FINISHING MEBEL , CALTER MOBIL , MEBEL,FURNITUR
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Friday, July 1, 2011

KONTRAVERSI AJARAN AHMADIYAH

Ahmadiyah Sebagai Isolasionisme

2.1 Biang Keladi
Pada tahun 1933 di kota Lahore India, terjadi huru-hara. Pada mulanya para Ulama bersama-sama kaum muslimin yang dikenal dengan sebutan – Golongan Ahrar – mengajukan appeal pada Pemerintah agar aliran Qadiani atau yang lebih dikenal dengan nama: AHMADIYAH, dinyatakan sebagai aliran non­Islam. Mereka juga minta agar Sir Zafrullah Khan, seorang tokoh dari kelompok Ahmadiyah, dipecat dari kabinet India.1
Zafrullah Khan di samping seorang negarawan terkenal, juga seorang diantara tokoh-tokoh Salvation Army Ahmadiyah yang giat menyusun keku­atan di atas terutama mempengaruhi kalangan pemerintahan maupun militer.
Kepala pemerintahan daerah Punjab barat, tuan Mumtaz Daultana, eng­gan sekali untuk turun tangan serta mengambil sikap bertolak belakang dengan keinginan para Ulama; Ia merasa akan mengakibatkan timbulnya kekeruhan dalam suasana politik di negerinya.
2
Bagaimanapun juga pada akhirnya pertemuan dengan mereka tidak bisa dielakkan lagi. Dalam suatu perundingan yang lama, antara para ulama dengan perdana menteri Nazimuddin serta tuan Mumtaz Daultana, tokoh-tokoh dari pemerintahan India ini ternyata bersikap kaku, lamban bahkan menolak untuk mempertimbangkan tuntutan mereka itu.
Suasana hangat dalam pertemuan itu, kiranya telah menembus ke luar gedung meliputi massa kaum Muslimin yang sedang menunggu hasil­hasilnya. Kegelisahan pada mereka telah merata, kesabaran telah lenyap, dan tanpa menanti lebih lama lagi, mereka mulai bergerak turun ke jalan-jalan mengadakan demonstrasi. Kemarahan dan emosi membawa mereka, bagaikan arus yang menyisihkan setiap rintangan di depan bahkan kekerasanpun terjadi di sana-sini.
3
Pemerintah cepat-cepat turun tangan. Melalui campur tangan militer, keadaan yang penuh ketegangan itu berubah menjadi keadaan yang mencekam dada, pekik dan tangis terdengar, ketakutan tampak pada wajah-wajah mereka. Suatu peristiwa yang sulit untuk dilupakan, telah terjadi di tempat berkumpulnya kaum Muslimin itu. Pada suatu ketika, sebuah jeep dengan kecepatan yang luar biasa mendadak muncul menerjang ke arah kelompok­kelompok massa kaum Muslimin, sambil melepaskan tembakan-tembakan membabi buta. Maka jatuhlah korban yang tidak sedikit jumlahnya.

Seorang Ahmadiyah yang fanatik berkata, bahwa “peristiwa jeep” itu adalah suatu mu’jizat, dan para penembak didalamnya tidak lain adalah Malaikat­malaikat Tuhan yang dikirim untuk menolong Ahmadiyah
.4
Suatu kenyataan yang jelas ialah, bahwa pemerintah dalam bertindak telah berdiri berat sebelah. Dalam suatu laporan tertulis yang disampaikan oleh hakim-hakim Mohammad Munir dan M.R. Kayani, dimana kedua orang tersebut menghakimi seluruh sidang-sidang perkara Ahrar, ternyata isi laporan mereka itu sangat kabur serta merugikan para Ulama. Naseem Saifi, seorang tokoh Ahmadiyah kelahiran Qadian, mengutip isi laporan tersebut, sebagai berikut:
“Jelas sudah, bila pemimpin-pemimpin Ahrar itu mengetengahkan pada publik hanya soal-soal perbedaan dalam Agama, maka suguhan mereka itu tidak aka berpengaruh apa-apa. Akan tetapi bila pada mereka diissuekan bahwa Ahmadiyah menghina Nabi Muhammad dengan cara mengumumkan kenabian baru sesudah kenabian akhir Muhammad s.a.w. bahkan nabi baru itu jauh lebih mulya. Maka disinilah jebakan pemimp-pemimpin Ahrar itu mengenai sasarannya dengan tepat. Ummat Muslimin akan tergugah, terkejut, bahkan murka mendengar pidato-pidato semacam itu.”
5
Sesudah laporan Munir dan Kayani tersebut, datang lagi laporan dari Badan Penyelidik Kejahatan Pemerintah, yang nadanya lebih keras serta memberatkan pemimpin Ahrar. Ahmadiyah mengutip isi laporan tersebut:

“Sesungguhnya para pemimpin Ahrar itu tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya telah bermain api. Mereka sedang membangkitkan kemarahan di kalangan ummat Islam sedemikian rupa, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti terjadinya korban-korban jiwa, kerusakan-kerusakan, penghinaan dan lain­lain tidak dapat dielakkan lagi. Suatu tindakan keras harus segera diambil! “
6
Demikianlah tindakan tangan besi pemerintah telah merenggut jiwa kaum Muslimin tidak sedikit. Sungguh patut disesalkan bahwa telah terjadi peristiwa tragis semacam itu; padahal benih-benih yang menyebabkan timbulnya api kemarahan ummat yang sekaligus telah merenggut jiwa mereka yang tidak sedikit itu, masih tetap bercokol.

Sudah selayaknya bila pemerintah India pada waktu itu menelaah jauh­jauh sebelumnya sebab-sebab dari timbulnya kemarahan kaum Muslimin. Bahwasanya apa yang telah diucapkan oleh pemimpin-pemimpin Ahrar itu, tidak semuanya fitnah semata-mata. Munculnya nabi baru sesudah kenabian akhir Muhammad s.a.w., memang telah dipropagandakan oleh Ahmadiyah, dimana Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah itu sendiri yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru di kalangan ummat Islam. Justru inilah, nabi baru itu, benih diantara benih-benih yang ditanam Ahmadiyah, yang telah menimbulkan kemurkaan ummat mencapai puncaknya.
Tiga tahun kemudian setelah terjadinya peristiwa Ahrar tersebut, DR. Mohammad Iqbal, Failosoof dan Pujangga besar Islam mengirim sepucuk surat pada Pandit Nehru, dimana beliau mengutarakan pendiriannya terhadap Ahmadiyah. Isi dari surat beliau tersebut yang bertanggal 21 Juni I936, berbunyi:

“Sahabatku Pandit Jawahar Lal,
Terima-kasih atas surat anda yang telah kami terima kemarin. Pada saat saya menulis jawaban atas artikel-artikel anda, saya merasa yakin bahwa anda tidak menaruh minat apapun terhadap sepak-terjang orang-orang Ahmadiyah itu. Kendatipun demikian adanya saya menulis juga jawaban tersebut, ialah semata-mata didorong untuk membuktikan, terutama pada anda, bagaimana sikap loyalitas kaum Muslimin di satu pihak, dan bagaimana sebenarnya tingkah laku yang ditontonkan oleh gerakan Ahmadiyah itu. Setelah diterbitkan risalah kami, saya mengetahui benar-benar bahwa tidak seorang Muslimpun yang berpendidikan, menaruh perhatian atas asal-usul maupun perkembangan ajaran­ajaran Ahmadiyah. Selanjutnya perihal artikel-artikel yang anda tulis itu, bahwasanya bukan saja penasihat-penasihat Muslim anda yang berada di Punjab yang merasa cemas, bahkan hampir di seantero negeri mereka semua cemas. Hal ini lebih membuat mereka gelisah, bila memperhatikan bagaimana orang­orang Ahmadiyah bersorak-sorai karena artikel anda itu. Tentu saja dalam hal ini surat kabar Ahmadiyah banyak membantu sepenuhnya timbulnya prasangka dan kecemasan-kecemasan itu. Namun demikian, pada akhirnya saya sungguh bergembira bahwasanya anda tidak sebagaimana yang kami cemaskan itu.

Selanjutnya perlu saya utarakan di sini bahwa perhatian saya terhadap ilmu ke-Tuhan-an, kurang. Akan tetapi saya mulai gandrung padanya, ketika saya harus mengenal Ahmadiyah dari asal-usulnya. Ingin saya meyakinkan anda di sini, bahwa risalah yang saya tulis itu adalah semata-mata untuk kepentingan Islam dan India. Kemudian saya tidak pernah ragu untuk menyatakan disini, bahwasanya orang-orang Ahmadiyah itu, adalah pengkhianat-pengkhianat terhadap Islam dan India.

Saya menyesal sekali tidak mendapal kesempatan menemui anda di Lahore. Saya jatuh sakit pada hari-hari itu dan tidak keluar dari bilik. Bahkan hampir selama dua tahun terakhir ini saya berada dalam keletihan dikarenakan sering jatuh sakit. Harap anda kapan saja bila anda datang lagi ke Punyab. Kemudian apakah anda telah menerima surat saya yang berkenaan dengan usul anda mengenai penyatuan hak-hak kemerdekaan kaum sipil. Ketika anda tidak menyinggung lagi hal tersebut dalam surat anda, saya merasa kuatir bahwa anda tidak pernah menerimanya.

Wassalam, sahabatmu,”

Sd. Mohammad Iqbal.
7
Apa sebab DR. Iqbal termasuk diantara mereka yang menyerang Ahmadiyah, bahkan menyatakan sebagai pengkhianat-pengkhianat terhadap Islam dan India? Justru pendirian beliau inilah yang harus digaris-bawahi sebagai suatu problema yang patut diteliti sejauh mungkin. Beliau sendiri tidak berkesempatan untuk menulis tentang dalih-dalih maupun dasar-dasar dari pernyataannya yang drastis itu secara luas, mungkin dikarenakan kesehatannya yang banyak terganggu. Akan tetapi beliau tidak lupa memberikan metode-metode yang baik dalam rangka mengenal Ahmadiyah. Sebaliknya bagi pemerintah India, sudah sewajarnya bila pernyataan Iqbal tersebut dijadikan sebagai titik-tolak daripada penelitian yang seksama terhadap gerakan Ahmadiyah. Setidak-tidaknya bertindak sebagai penen­gah yang suka mendengar suara-suara ulama yang tidak diragukan identitas maupun kwalitasnya, termasuk suara Iqbal.
Jika tidak, maka apa yang terjadi kemudian ialah timbulnya gerakan­gerakan estafet para Ulama maupun kaum muslimin yang bersikap menentang hadirnya aliran Ahmadiyah dalam tubuh Islam.
Bukti-bukti timbulnya gerakan-gerakan estafet telah ada. Peristiwa­peristiwa yang hampir sama dan dari sebab-sebab yang sama telah terjadi; mengambil tempat di anak benua India kembali.

2.2 Kemurkaan Estafet
Pada tanggal 15 Mei 1953 di kota Lahore Pakistan, seorang Ulama besar, syed Abul A’la al-Maududi, karena menyerang keras aliran Qadiani (Ahmadiyah) dan bersama-sama kaum Muslimin menuntut agar pengikut­pengikut Ahmadiyah dinyatakan sebagai golongan non-muslim, oleh pengadilan militer di Lahore, beliau dan seorang Ulama bernama Maulana Niazi, dijatuhi hukuman mati!
8
Berita vonnis yang tidak disangka-sangka itu, bahkan tidak pernah ter­lintas dalam pikiran kaum Muslimin, telah menimbulkan kepanikan di kalangan ummat Islam Pakistan, India, bahkan seluruh dunia Islam ikut terkejut atasnya.
9
Keputusan akan “membunuh” tokoh kecintaan ummat, seorang mujahid, dan seorang sumber ilmu Agama yang tidak kering­keringnya itu, telah menimbulkan kekhawatiran dan kegelisahan dimana­mana. Kemarahan kaum Muslimin hampir-hampir tidak dapat dibendung lagi.
Melihat situasi yang semakin panas itu, pemerintah cepat-cepat turun tangan, mengambil langkah mendatangi Syed Maududi di tempat tahanannya, menawarkan pada beliau kesempatan untuk mohon ampun dan mohon dikasihani. Namun dengan sikap yang berani dan tegas, beliau berkata:
“Tidak, lebih baik aku mati daripada merendah-rendah diri di hadapan suatu Tyran. Jika ini sudah Takdir Allah, aku dengan segala keikhlasan menerimanya. Akan tetapi jika ini bukan KehendakNya, maka ketahuilah! Jangan coba-coba menyakiti diriku.”
10
 Melihat pendirian syed Maududi begitu gigih, lebih-lebih sikap dari kaum Muslimin Pakistan, India, dan seluruh dunia Islam dalam suasana prihatin, akhirnya pemerintah menempuh jalan lain dan merobah hukuman mati atas diri syed Maududi menjadi hukuman penjara selama 20 tahun. Namun tidak lama kemudian jumlah 20 tahun itu berobah lagi, bahkan berobah berkali-kali sehingga sampai pada hukuman penjara dua tahun.
Tindakan drastis oleh pengadilan militer Lahore atas diri Ulama besar itu, menurut sinyalemen maupun pendapat-pendapat tokoh-tokoh pemerintahan dan militer, didasarkan atas pertimbangan politis semata-mata. Namun bila diteliti lebih seksama, pokok pangkal daripada peristiwa 1953 itu, ialah agitasi golongan Ahmadiyah, yang terang-terangan mengacaukan ketentraman iman kaum Muslimin dan membelakangi aqidah mereka.
11
Bahwa sebab utamanya terletak pada kegiatan Ahmadiyah mempropagan­dakan faham-fahamnya yang bersimpang jalan itu, tidak diragukan lagi. Peristiwa yang sama dan dari sebab-sebab yang sama telah terjadi lagi, mungkin suatu peristiwa yang akhir, akan tetapi mungkin juga bukan terakhir, telah mengambil tempat di anak benua India kembali.
Pada tanggal 8 Juni 1974, di Islamabad Pakistan, telah terjadi demonstrasi kemarahan kaum Muslimin yang mencapai klimaxnya. Kali ini peristiwa itu lebih banyak makan korban harta benda dan jiwa. Gerakan Ahmadiyah yang mula-mula menceritakan kejadiankejadian tersebut, berkata:

“Sejak Minggu terakhir dari bulan Mei 1974 telah terjadi kerusuhan­kerusuhan di Pakistan. Dengan dihasut oleh kaum Ulama dan digelorakan oleh surat-surat kabar kaum Islam yang fanatik menjalankan tindakan kekerasan terhadap orang-orang dan harta benda milik jemaat Ahmadiyah di Pakistan. Orang-orang Ahmadiyah dibunuh dan mesjid, rumah, toko, perpustakaan, pabrik, gudang dan klinik mereka dirampoki, dihancurkan dan dibakar. Boikot sosial dan ekonomi dilakukan terhadap o-orang Ahmadiyah di seluruh Pakistan sehingga mereka tak dapat memperoleh bahan kebutuhan sehari-hari, bahkan air minum tak dapat mereka beli. Bayi-bayi juga menderita akibat boikot itu, karena susu untuk mereka tak bisa didapat.”12
Bahkan rentetan dari peristiwa itu lebih jauh lagi. Di luar Pakistan, dari kota Mekkah Al-Mukarramah, telah datang keputusan Rabithah ‘Alam Islamy, menyatakan golongan Ahmadiyah sebagai golongan non­Muslim serta melarang anggauta-anggautanya naik haji. Jelas sudah, bahwa penyebab utama timbulnya kerusakan-kerusakan maupun korban jiwa itu, datang dari Ahmadiyah sendiri. Aliran inilah biang keladi dari kemarahan ummat Islam yang tak terbendungkan itu.

Sungguh sangat disesalkan telah terjadi peristiwa itu, akan tetapi sangat disayangkan bahwa pemerintah tidak mengambil inisiatif jauh­jauh sebelumnya, bahkan jauh sebelum peristiwa-peristiwa yang silam itu, untuk menghentikan aliran Mirza Ghulam itu dan menyatakan sebagai aliran non-Islam maupun membubarkannya sekaligus!
Sudah jelas, bila golongan kecil Ahmadiyah ini, bila dikaji faham­fahamnya, maupun aqidahnya ataupun hanya disebut-sebut. namanya, akan menimbulkan tidak sedap dan menggelisahkan kaum Muslimin, bahkan bisa terjadi kemarahan-kemarahan dan korban. Ia jauh lebih terorganisir, rapi, sempurna, dan persiapan-persiapan masa depannya maupun keuangannya sangat padat.

Sebaliknya dari peristiwa 1974 itu, gerakan Ahmadiyah sendiri mempunyai pandangan-pandangan yang berbeda. Golongan ini berkata:
“Rahasia di-non-Islamkannya Ahmadiyah, ialah sebagaimana yang diberitakan oleh harian – Imroz Lahore Pakistan, seperti berikut ini: Chiniot, 16 November (74). Menteri Kehakiman Propinsi merangkap urusan Parlemen, Sadar Asghar Ahmad, dihadapan rapat akbar di Jerwala mengatakan, bahwa partai rakyat (yang berkuasa di Pakistan sekarang) telah berhasil menyelesaikan masalah “Khataman Nubuwah” dengan cara yang amat bijaksana. Penyelesaian masalah ini merupakan kejadian besar sesudah peristiwa Karbala yang tercatat dalam sejarah Islam. Perdana Menteri Ali Butto telah berhasil menghancurkan siasat pemimpin­pemimpin opposisi dengan menyelesaikan masalah Qadiani itu.”

Kelihatan belangnya, bukan? Kita ini (Ahmadiyah) memang sudah tau. Itu­lah sebabnya tidak pernah kecil hati. Permainan politik memang begitu. Kaum opposisi di pemilihan umum mendatang (1975) di Pakistan ingin menjadikan masalah Ahmadiyah sebagai issue menarik untuk memperoleh suara. Tetapi Ali Butto bukan goblog. Dia tau mental “alim-ulama” yang rakus kursi, berselimutkan Agama ingin mencapai tujuan politis.”
13
Lebih lanjut Ahmadiyah berkata:
“Saudi Arabia atau Rabhitah kalau mencap Ahmadiyah non Islam – tidak mengherankan. Itu biasa, asal jangan Tuhan yang me-non­Islamkan.”
14
Bahwa peristiwa di Pakistan itu merupakan tindakan kaum oposisi serta para Ulama dengan maksud untuk mencapai tujuan politis, itu adalah pendapat Ahmadiyah pribadi. Adalah sukar untuk diterima, bahwa ikut sertanya Organisasi Dunia Islam yang berkedudukan di Mekkah itu, termasuk dari rasa solidaritas atau bertindak dalam rangka membantu tujuan politis kaum oposisi di dalam negeri Pakistan. Melainkan yang logis dan mudah dimengerti, bahwa Rabhitah Alam Islamy telah me-non-Islamkan Ahmadiyah dan sekaligus melarang angauta-anggautanya naik haji, ialah atas dasar-dasar pertimbangan serta penelitian yang seksama akan bentuk hakiki dari gerakan Ahmadiyah itu. Ulama-ulama di Pakistan, India, atau dimana saja, melihat gerak-gerik Ahmadiyah tidak lagi dari segi-segi lahirnya, akan tetapi pada segi­segi bagian dalamnya.

Kenyataan dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan Ah­madiyah sendiri, bahkan semenjak fajar-fajar munculnya Mirza Ghulam Ahmad dan alirannya, sikap dan tindakan para Ulama selalu menentang keras padanya. Dari suatu pengamatan yang teliti, benih-benih yang ditanam Ahmadiyah di kemudian hari jauh berbeda-beda dari sebelumnya, ia lebih banyak menonjolkan merk Islamnya daripada sifatnya yang complex.
Syukur bahwa dari Ulama-ulama yang masyhur seperti: Mohammad Hadr Husein, Abul Hasan Ali an-Nadwi, Abdul ‘Alim Assidiqhi, Abul Ala al­Maududi dan lain-lain, telah berhasil membuka selubung kulit Ahmadiyah serta mengurai-urai isi dalamnya. Predikat Ulama yang ada pada mereka, lebih­lebih lagi sebagai putera-putera dari anak benua India, tidaklah menimbulkan keragu-raguan untuk menyatakan bahwa hasil-hasil tulisan mereka tentang kesesatan Ahmadiyah, adalah hasil dari sikap-sikap yang jujur, obyektif dan tidak emosional. Sehingga apa yang tidak jelas dari “Apa dan Siapa Ahmadiyah itu” menjadi jelas dan disadari.

Namun demikian, kendati hasil telah dicapai, yaitu kesadaran kaum Muslimin terhadap aliran Mirza Ghulam Ahmad itu, akan tetapi pada kenyataannya pencapaian Ulama-ulama itu belumlah sampai pada titik-titik intinya, belum mengena bahkan belum menyentuh sekalipun pada lubuk dasar yang hakiki dari Ahmadiyah.

Akibatnya karena hal-hal tersebut, maka problema-problema baru yang tampaknya lebih segar dan logis, susul­menyusul datang dari Ahmadiyah. Bagaikan suatu santapan yang dihidangkan pada kaum Muslimin, lebih sedap dipandang, lebih enak disantap dan lebih komplit dari yang sudah-sudah.
Ternyata Ahmadiyah berada dalam sigap berdiri di atas kuda-kuda, menanti setiap serangan maupun kritikan dari luar dan siap pula menangkis dan menyerangnya. Lebih jauh Ahmadiyah berkata:

“Memang, seperti di persada Indonesia ini, umpamanya, masih ada pula gelintiran manusia-buta yang menganggap Ahmadiyah itu sesat. Sekalipun mereka tak mampu membuktikannya menurut Qur’an dan Hadits Nabi s.a.w. dan tak pula mampu memperhadapkan “dalil-dalil” nya itu dengan Ahmadiyah, namun sekali-sekali terdengar pula cetusan hati-kotornya yang tak pernah membekas “juridu li-yuthfi ‘u nurallahi bi-afwahihim” (mereka berhasrat memadamkan cahaya kebenaran Ilahy itu dengan mulutnya), tentu saja tak mungkin. Sebab itu untuk mereka tak lain ialah: “mutu be-ghaidhikum” (benci dan dengkinya akan dibawa atau membawa mereka pada maut.”
15
Akhirnya dengan lantang Ahmadiyah berkata:
“Anda orang berakal, bukan? Jangan mau diburung-ontakan oleh anasir-anasir yang memusuhi Ahmadiyah dengan cara lempar batu sembunyi tangan. Rata-rata mereka berkaok-kaok dari belakang Ahmadiyah tetapi tidak berani berhadapan. Mereka tau akan kelihatan belangnya.”
16
2.3 Tantangan Rutin

Bahkan jika masih ada niat untuk berhadapan dengan Ahmadiyah, janganlah coba-coba melakukannya. Naseem Saifi, seorang tokoh Ahmadiyah kelahiran Qadian, dengan lantangnya berkata:
“Coba tunjukkan padaku, apa yang telah dicapai oleh mereka (Ulama-ulama) yang memusuhi Ahmadiyah itu? Adakah hasil yang mereka peroleh, ataukah mereka sanggup membendung masuknya orang-orang ke dalam Ahmadiyah?
Jelas sekali, mereka telah gagal, bahkan jika seribu satu macam kitab diterbitkan untuk menentang Ahmadiyah, mereka pasti gagal !!”
17
Dengan tantangan yang begitu gigih itu, maka Ahmadiyah dengan segala kerapiannya mempertontonkan diri di mata orang lain, dalam bentuk ke­Islamannya yang baik. Apa yang logis, yang segar dan mudah untuk dicerna kaum Muslimin, telah disuguhkan oleh Ahmadiyah. Lebih banyak kitab-kitab Ahmadiyah disertakan didalamnya dengan catatan maupun mukaddimah, bahwa Syahadat Ahmadiyah adalah syahadat kaum Muslimin, bahwa rukun Islam dan rukun iman Ahmadiyah adalah sama dengan kaum Muslimin, memang pada kenyataannya sama. Hal ini tidak perlu dibantah, bahkan Ahmadiyah menegaskan lagi:

“Ahmadiyah sehelai rambutpun tidak menyimpang dari ajaran Qur’an dan Sunnah Rasul kita Muhammad s.a.w. Untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam di seluruh dunia Ahmadiyah melalui cara dan jalan yang dihalalkan oleh Islam dan dibenarkan oleh undang-undang dan peraturan yang berlaku di mana Ahmadiyah berada dengan menekankan: mengirimkan muballigh-2 nya ke seluruh dunia; menyiarkan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa yang hidup di dunia seperti bahasa-bahasa: Inggris, Jerman, Perancis, Italy, Belanda, Spanyol, Scandinavia, Persia, dan lain-lain; mendirikan mesjid-mesjid di seluruh dunia termasuk mesjid-mesjid di Eropah, Amerika Serikat, Afrika dan lain-lain; menyiarkan buku-buku secara cuma-cuma tentang berbagi masalah seperti perbandingan agama, sistim ekonomi dalam Islam, Kapitalis dan Komunis. Dan seterusnya.”
18
Excelent dan menyilaukan bukan? Justru karena inilah, maka usaha­usaha untuk menemukan bentuk yang lama dari Ahmadiyah yakni bentuk fitrahnya, akan mengalami kesulitan dan mungkin kegagalan seperti yang dilantangkan Naseem Saifi di atas. Hal ini telah diduga sebelumnya dan dinyatakan oleh Pujangga besar Isla, DR. Mohammad Iqbal. Beliau berkata:

“Para Ulama di India yang menggunakan pedoman atau hujjah­hujjah Theologis untuk berhadapan dengan aliran Ahmadiyah, pada kenyataannya tidak berhasil mencapai kesempurnaan buat menengok kebagian sebelah dalam dari Ahmadiyah. Cara-cara mereka itu bukan suatu methode yang effektif. Bahkan bila mereka mencapai suatu success, itu hanya semu (sementara) belaka.”
19
Justru karena pedoman atau hujjah theologis yang dipakai para Ulama itu, Ahmadiyah kemudian berputar haluan, berganti taktik, merobah sikap dan menutup segala kemungkinan untuk mengenal asal-usul maupun bentuknya yang semula. Ini terbukti dari adanya kegiatan missi Ahmadiyah yang lebih banyak menonjolkan kerja dan jasa atas nama Islam, daripada mengungkap­ungkap lagi perihal kedudukan maupun jabatan-jabatan pendirinya, Mirza Ghulam Ahmad. Sudah tentu, dari suatu organisasi yang baik dan sempurna, lebih-lebih dengan keuangannya yang padat, Ahmadiyah sanggup menonjolkan dirinya sebagai organ Islam yang militant.
Banyak pujian-pujian datang dari Ulama-ulama di luar Ahmadiyah, lebih­lebih dari tokoh-tokoh Ketimuran {Orientalist), antara lain yang perlu disebut di sini ialah Prof. H.A.R. Gibb, seorang Guru besar bahasa Arab pada Universitas Oxford dan Harvard. Gibb berkata tentang Ahmadiyah:

“Ahmadiyah adalah gerakan yang giat melawan penyiaran Agama Kristen baik di Indonesia di Afrika selatan maupun di Timur dan Barat. “
20
Tidaklah penting untuk memperbanyak halaman-halaman di sini den­gan mengutip berbagai pujian terhadap Ahmadiyah, melainkan yang penting untuk dicatat ialah hasrat terpendam yang ingin dicapai Ahmadiyah, yaitu menarik orang-orang baik yang belum memeluk Islam maupun yang sudah Muslim, pada aliran Mirza Ghulam Ahmad. Kemudian dari setiap pribadi yang kena pengaruh itu, dimintanya untuk berbai’at, setia, dan taat serta meyakini seluruh pangkat, gelar dan kedudukan yang dimiliki Mirza Ghulam tanpa mempersoalkannya lagi.

Lebih daripada itu, aliran Mirza Ghulam Ahmad ini telah meny­atakan dirinya sebagai Organisasi bentukan Tuhan 21, sebagai Islam sejati 22 dan sebagai “illa wahidah” hanya satu yang masuk sorga dari 73 pecahan ummat Islam itu 23 Karenanya, kedudukan illa wahidah pada gerakan Ahmadiyah itu, telah mendorong orang-orang Ahmadiyah untuk tugas suci mengIslamkan kembali kaum Muslimin, atau dengan kata lain, meng”ahmadiyah”kan mereka.
Jelas di sinilah letaknya benih pemecah-belah kesatuan Islam serta mengobrak-abrik ketentraman iman mayoritas ummat Islam yang telah berjalan hampir empat-belas abad itu. Maka tidaklah ragu untuk menyatakan bahwa pujian-pujian yang datang dari orang-orang Barat kepada Ahmadiyah adalah semata-mata untuk tujuan menyuburkan benih pemecah dan pengacau iman itu.
Di Indonesia, hampir di setiap kota-kota besar, Ahmadiyah dapat memperoleh tempat yang subur buat pertumbuhannya. Meskipun gerakannya lambat namun aliran ini kian hari kian meluas serta membawa bekas. Bahkan di suatu tempat di Jawa Barat, dekat kota Cirebon, sebuah desa atau kecamatan bernama Kayu Manis, Ahmadiyah telah menjadikannya sebagai proyek daerah tauladan, dimana hampir seluruh penduduknya di sana menganut faham yang diajarkan Mirza Ghulam.

“Bahwa lebih penting daripada mengemukakan ajaran Ahmadiyah dalam perbandingannya dengan faham kaum Muslimin (yang kontra) ialah usaha mencatat perkembangan alam pikiran keagamaan di Indonesia sebagai suatu bagian dari sejarah kita dimana ajaran Ahmadiyah ternyata mempunyai bekas yang bisa diraba meskipun nyaris tak pernah disinggung. Bahkan dengan asumsi pertama bahwa dari mereka banyak bisa diambil hal-hal yang kedudukan ajaran ini dalam sejarah pemikiran Islam di Indonesia.”
24
Jalan pikiran Syu’bah Asa tersebut di atas sebenarnya merupakan garis­garis sentuhan baru dari Ahmadiyah terhadap mereka yang masih belum mengenalnya. Dengan cara-cara yang menarik dan flexible, Ahmadiyah berusaha memperlunak diri dari kekerasan mengisolir dirinya; Mungkin suatu usaha berkompromi telah disodorkan ke tengah-tengah masyarakat Muslimin, dengan penuh harap pada mereka yang berada di luar Ahmadiyah, agar tidak berjerih payah atau meniliti atau memikirkan sebab-sebab, sehingga Mirza Ghulam Ahmad pendiri Ahmadiyah itu, telah memiliki gelar-gelar pangkat dan kedudukan begitu komplex dan penuh; melainkan dimintanya untuk menaruh perhatian yang saksama akan bukti-bukti maupun kenyataan-kenyataan yang ada yang telah dicapai oleh Ahmadiyah dengan success-success missinya Itulah harapan Ahmadiyah!
Apakah mungkin bagi kaum muslimin mengabaikan begitu saja akan pangkat-pangkat, gelar-gelar dan kedudukan Mirza Ghulam? Padahal pengikut-pengikut Ahmadiyah sendiri meresapkan ke dalam dada mereka seluruh pendakwaan pemimpinnya itu. Dan bagaimana mungkin, padahal untuk pangkat-pangkat itulah justru Mirza Ghulam Ahmad muncul di tengah-tengah kaum Muslimin, dengan berbagai-bagai alasan demi kepentingan dirinya. Bahkan dalam keterangan­keterangan pendakwaannya itu, Mirza Ghulam maupun Ahmadiyahnya membuat suatu surprise di kalangan kaum Muslimin, dengan mengemukakan dalil-dalil al-Quran dan Hadits, meskipun cara­cara pemakaian maupun pengertiannya, sangat dipaksa-paksakan.
2.4
Mirza Ghulam Ahmad Duplikat Sir Syed Ahmad Khan
Success yang dicapai Ahmadiyah mungkin dapat mengaburkan pandangan kaum muslimin akan tetapi tidak demikian pada pandangan Ulama­ulama. Justru sebaliknya, dari success yang dicapai Ahmadiyah itu timbullah kecurigaan Ulama-ulama terhadapnya. Kelahirannya yang baru kemarin, bangunnya yang kesiangan dan daerah-daerah yang dibabatnya bukan hutan lagi, adalah sebab-sebab diantara sebab timbulnya rasa curiga.
Usaha-usaha untuk mengenal Ahmadiyah telah disiapkan dengan baik oleh penulis-penulis India, Pakistan, maupun di luar kedua negara itu. Akan tetapi sebagaimana dikatakan oleh Muhammad Iqbal, bahwa cara-cara mereka memperkenalkan masih belum memuaskan karena methode-methode yang dipakai untuk itu kurang effektif.
Jelaslah kiranya, bahwa untuk mengetahui “Apa dan Siapa Ah­madiyah” sampai kepada lubuk dasarnya, pada hakikat dirinya latar belakang munculnya, kekuatan berpijaknya serta bayangan tempat berteduhnya, akan memerlukan ketekunan menggarap dan ketelitian menelaah kitab-kitab Ahmadiyah baik yang Qadiani maupun yang Lahore. Alhasil kita harus masuk liwat belakang dari pintu dapur Ahmadiyah, dimana masakan Mirza Ghulam Ahmad ini, digarap.

Nama “AHMADIYAH” bukan pertama kalinya ada setelah Mirza Ghulam Ahmad membentuk atau mengadakannya. Jauh-jauh sebelum Mirza Ghulam dikenal, nama Ahmadiyah itu telah ada. Ketika Mirza Ghulam masih bocah jadi masih belum ada apa-apa padanya, Sir syed Ahmad Khan, (1817-1898) pendiri Aligarh yang mashur itu, pada tahun 1842 membukukan hasil-hasil kuliyah-kuliyahnya dengan judul: “Al-Khutbatu-Al-Ahmadiyah” Ketika itu Mirza masih berumur kurang lebih tujuh tahun.
Bahkan jauh-jauh lagi di belakang syed Ahmad Khan, kira-kira 600 tahun sebelum Mirza Ghulam lahir, nama Ahmadiyah itu telah ada. Syed Ahmad al-Bedawi, seorang pejuang Islam yang mashur, mendirikan suatu Thariqat yang menggunakan nama beliau sendiri, ialah Ahmadiyah atau Bedawiyah.
25
Bagi Mirza Ghulam Ahmad, adalah lebih tepat bila gerakannya itu memakai nama “Mirzaiyah” atau “Qadianiah.” Tetapi ia dan pengikut-pengikutnya tidak menghendaki nama-nama itu. Berkata seorang tokoh Ahmadiyah:

“Nama ‘Ahmadiyah Qadian’ itu selalu digunakan oleh orang­orang yang memusuhi Ahmadiyah. Jadi bukan nama yang tepat beliau ambil sesuai dengan kebenaran tetapi yang made in orang lain itu yang dipilihnya. Jujurkah begini? Bukankah ini karena sentimen, dengki,’ dan benci?”
26
Maka yang benar ialah yang resmi digunakan oleh orang-orang Ah­madiyah sendiri terhadap gerakannya yakni gerakan Ahmadiyah atau Ahmadiyah movement. Nama inilah yang sering, ditulis dalam sejarah pergerakan Islam, sebagai suatu gerakan yang bermerk Islam, merek yang telah dipasang oleh Mirza Ghulam Ahmad dan pengikut-pengikutnya.

Penilaian terhadap aliran ini oleh orang-orang di luar Ahmadiyah, sebagaimana telah disebutkan, akan sedikit banyak mengambil tempat di sini. Di antara mereka yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja ialah penilaian Prof. H.A.R. Gibb; beliau berkata tentang Ahmadiyah:
“Gerakan Ahmadiyah mulai melangkah sebagai suatu pergerakan Liberal dan gerakan pembaharuan yang bersifat damai yang membawa minat ke arah satu langkah baru kepada mereka yang sudah kehilangan kepercayaannya dalam Agama Islam yang tua. Pendiri gerakan ini, Mirza Ghulam Ahmad tidak saja mengaku sebagai Mahdi dari Islam dan sebagai Messiah dari Kristen akan tetapi jtaga sebagai penjelmaan (Avatar) dari Khrisna.”

Gibb kemudian menambah lagi:
“Bahwa gerakan Ahmadiyah ini adalah gerakan Sinkretis sebagai reaksi terhadap gerakan Aligarh, dimana Mirza Ghulam Ahmad menuntut sebagai pembawa wahyu untuk mentafsirkan baru Islam bagi keperluan zaman baru “
27
Demikian ulasan Prof. Gibb. Yang perlu digaris-bawahi dari ucapan­ucapan beliau, diantaranya ialah bahwa gerakan Ahmadiyah adalah gerakan Sinkretis sebagai reaksi terhadap gerakan Aligarhnya Sir syed Ahmad Khan.
Lebih terarah lagi pada wujud yang sebenarnya dari Ahmadiyah, ialah penilaian Pujangga Islam Muhammad Iqbal. Beliau berkata:

“Di Barat daya India, negeri dimana keadaan maupun kondisinya lebih orisinil, primitip dari negeri-negeri lain di Indla, gerakan yang dilahirkan Sir syed Ahmad Khan segera mendapat reaksi serta ditandingi dan diikuti dengan seksama oleh suatu gerakan baru, yakni Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad, suatu aliran mistik yang aneh, mencakup mistik-mistik bangsa Smit dan Arya, dimana ajaran-ajarannya tidak lagi mementingkan keutamaan jiwa yang bersih sebagaimana lazimnya pada ajaran-ajaran sufi, melainkan terarah dan terpusat pada cita-cita dan kepuasan seseorang yangmengaku dirinya sebagai Messiah yang dijanjikan.”
28
Kemudian lebih tertuju pada orangnya daripada alirannya, ialah penilaian se­orang penulis muslimah dan sufiyah yang mashur Maryam Jameelah. Beliau berkata tentang Mirza Ghulam Ahmad:

“Bahwa hampir semua langkah-langkah, cara-cara maupun idea-idea Sir syed Ahmad Khan, diambil oleh Mirza Ghulam dan diterapkan dengan seksama, sambil menyelipkan fatwa bahwa jihad melawan Inggris adalah kejahatan yang terkutuk.”
29
Dari penilaian-penilaian tersebut di atas terhadap Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya , ternyata nama Sir syed Ahmad Khan selalu ada dan disebut­sebut sebagai tokoh yang mendahului Mirza Ghulam dalam segala aspek. Hal ini mendorong kita untuk mengenal lebih dahulu pendiri Aligarh tersebut sebelum sampai pada pendiri Ahmadiyah. Kendati dari pihak Ahmadiyah jelas tidak membenarkan apa yang dinyatakan oleh Gibb, Iqbal, dan Jameelah terhadap diri Mirza Ghulam dan alirannya, akan tetapi tidaklah dapat diabaikan begitu saja kebenaran-kebenaran dari ucapan-ucapan mereka itu.

Mungkin Mirza Ghulam Ahmad tidak pernah duduk di bangku sekolahnya syed Ahmad Khan, dan mungkin juga ia bukan murid Sir syed, namun tidaklah berlebih-lebihan untuk mengatakan di sini, bahwa menarik kesimpulan dari ucapan-ucapan tokoh-tokoh di atas, jelas bahwa Mirza Ghulam Allmad telah berguru pada syed Ahmad Khan secara absentia. Karenanya mengenal Mirza Ghulam Ahmad melalui suatu langkah perkenalan pada syed Ahmad Khan, adalah jalan yang enak ditempuh serta memudahkan.

2.5 Sir Syed Ahmad Khan
Dilahirkan di Delhi pada tanggal 27 Oktober 1817, wafat di Aligarh tahun 1898, dalam usia 81 tahun. Ayah beliau bernama syed Muhammad Muttaqi dan kakek beliau bernama syed Hadi.
Pada usia lebih dari tiga-perempat abad itu, benar-benar merupakan tahun­tahun yang dijalani syed Ahmad dengan penuh pengabdian serta pengorbanan buat bangsanya. Semenjak usia yang masih muda, beliau sudah produktif dalam segala aspek ilmu pengetahuan, seperti ilmu sejarah, politik, hukum, Agama dan kesusasteraan. Tafsir Al-Qur,an buah karyanya yang tiada tandingannya itu, telah memberikan kesegaran iman serta daya kreatif buat sarjana-sarjana Muslim serta generasi-generasi sesudahnya.

Dalam kegiatan sehari-hari beliau adalah seorang pegawai sipil dalam pe­merintahan Inggris yang berkuasa di India waktu itu. Akan tetapi lingkungan gerak syed Ahmad Khan bukan hanya pulang-pergi kantor saja; beliau jauh daripada itu. Beliau adalah contoh figur pejuang yang tak kenal letih. Seorang teoritis dan sekaligus seorang realis. Penelitiannya yang tajam pada situasi dan kondisi bangsanya yang berada dalam penjajahan Inggris; pengalaman-pengalaman hidupnya tatkala terjadi perang tahun 1857, dimana kaum Muslimin hancur berantakan dan berada dalam tragedi hidup, semua itu telah menggerakkan syed Ahmad pada jalan lepas yang mengagumkan.

Lebih-lebih lagi setelah kembali dari perjalanannya ke Inggris tahun 1869 itu, syed Ahmad Khan mendapatkan saudara-saudaranya dalam keadaan parah, terbelakang, dan rasa rendah diri.
Dengan diagnose yang jelas itu, syed Ahmad berjuang untuk perbaikan­perbaikan yang menyeluruh. Lebih dahulu beliau mengajak kaum Muslimin agar bersikap loyal kepada penguasa Inggris. Beliau memberi contoh bagaimana nabi Yusuf a.s. bersikap Ioyal bahkan duduk dalam pemerintahan Fir’aun yang kafir itu.
30
Bagi syed Ahmad, suatu bangsa yang dikalahkan harus menyiapkan waktu yang lama untuk dapat tegak kembali, dan hal ini tidak cukup dijalani hanya dengan satu jalan kekerasan saja, melainkan suatu perjalanan damai yang effektif haruslah ditempuh. Cara-cara beliau ini merupakan jalan terbaik dan konstruktif yang benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh kaum Muslimin India serta generasi sesudahnya.

Meskipun demikian sikap syed Ahmad Khan, beliau tidak pernah menyembunyikan kepribadian Muslimnya. Terhadap Missionaris-missionaris Kristen yang berusaha menggoncangkan iman generasi muda Islam, beliau tidak tanggung-tanggung melawannya. Ketika Sir Muir menerbitkan tulisannya tentang pribadi Nabi Muhammad s.a.w. sebanyak empat jilid, dimana isinya merupakan senjata penghinaan terhadap Islam dan RasulNya, sehingga kitab Muir tersebut dipakai oleh Dr. Pfandar, seorang zending Kristen yang militant, untuk mengkocar-kacirkan pemuda­pemuda Islam, maka segera bangkitlah syed Ahmad Khan dengan sanggahan­sanggahan yang gemilang. Beliau telah terbitkan jawaban-jawaban atas tulisan Muir itu, dengan judul: Al-Khutbat -ul-Ahmadiyah, yang merupakan senjata pengobrak-abrik dasar-dasar dari tulisan Muir.
Ketika Komisaris pembagian Benares, tuan Shakespeare, sahabat beliau, menawarkan sebidang tanah serta uang untuk diri beliau dan keluarga, Syed Ahmad Khan dengan tegas menolak pemberian itu, bahkan beliau merasa tersinggung serta tertusuk hati.

“Bagaimana saya harus menerima hadiah itu, kata beliau dalam pidatonya tanggal 28 Desember I889, ketika membuka konperensi pendidikan bagi semua muslim India, bagaimana saya harus menjadi tuan tanah, padahal itulah penghinaan vang berat buat saya, justru di saat bangsaku berada dalam penderitaan yang hebat. “
31
Apa yang telah beliau saksikan sendiri dalam peperangan tahun 1857, juga yang terjadi di Khanam Bazar, Balakot dan di daerah-daerah lainnya, dimana kaum muslimin dibinasakan, tidak dapat lenyap selamanya dari ingatan syed Ahmad. Ketika negara berada dalam hukum militer, Ahmad Khan telah berbuat sesuatu yang amat membahayakan keselamatan dirinya. Dengan keberanian yang luar biasa ia menerbitkan pamphlet dengan judul: “Penyebab timbulnya revolusi bangsa India.”

Beliau membuka terang-terangan kesalahan-kesalahan Penguasa­penguasa Inggris terhadap anak negeri India, terutama dan terlebih­lebih terhadap kaum Musliminnya. Phamplet itu beliau sebarkan kemana­mana, bahkan sampai terbaca oleh anggauta-anggauta Parlemen di Inggris. Demikian pula ketika Sir W.W. Hunter menulis buku yang berjudul: “Orang­orang Islam India adakah mereka terikat kesadaran terhadap pembrontakan melawan Ratu!”
32
Syed Ahmad Khan telah menjawabnya dengan suatu pandangan yang menakjubkan.
Karier syed Ahmad yang gemilang itu telah membuka kesadaran kaum Muslimin India. Penyair yang mashur, Maulana Hali, penulis riwayat hidup syed Ahmad Khan, mencatat suatu peristiwa tahun 1867, ketika beberapa orang Hindu dari Benares dengan sepenuh daya upaya mengusulkan penghapusan bahasa Urdu dan tulisan Persia dalam kantor pemerintahan serta memasukkan sebagai gantinya bahasa Bhasa (suatu logat Hindu) yang bertuliskan Sankrit.

Syed Ahmad Khan seorang pengawas situasi yang tajam serta cepat menangkap makna dan tujuan dari orang-orang Benares itu, merasa terkejut dan menyadari bahwa tidaklah mungkin kiranya bagi orang-orang Muslim dan Hindu untuk bersatu. Dari peristiwa itulah lahirnya satu benih baru yang kemudian tumbuh menjadi suatu gagasan dan akhirnya terlaksana kelak menjadi suatu negara untuk orang-orang Islam (Pakistan).

Apa yang telah beliau tempuh sebagai suatu cara terbaik konstruktif serta sangat dirasakan manfaatnya oleh bangsa Islam India, ialah dibinanya su­atu pendidikan yang menyeluruh bagi semua tingkatan Muslimin. Ketika beliau pindah dari Ghazipur ke Aligarh pada bulan April 1864, syed Ahmad Khan memindahkan seluruh kekayaan yang dimilikinya dan diserahkan untuk masyarakat ilmu pengetahuan Aligarh.

Putera beliau yang mashur, syed Mahmud Ahmad, seorang ahli hukum, cendikiawan, saling bahu membahu dengan ayahnya dalam merintis suatu pendidikan buat semua Muslimin. Melalui Aligarhnya yang terkenal itu terbukalah jalan lempang bagi keluasan aspirasi dan dinamika kaum Muslimin maupun bangsa India. Dari Aligarh Universitynya syed Ahmad Khan kelak lahir suatu badan pendidikan bagi Muslim India, menyusul ,gerakan Universitas Muslim India, kemudian Liga Ummat Islam India. Semua itu telah mengangkat kepribadian Muslims, harga diri, serta semangat untuk berjuang. Suatu kemustahilan logika di atas tanah jajahan Inggris, telah terjadi di India. Realita yang menggembirakan kaum tertindas muslimin, hasil jerih-payah syed Ahmad Khan.

Tokoh-tokoh Pujangga besar Urdu seperti Nasir Ahmad, Shibli, Hali, Zakaullah, Wahiduddin Salim, Abdul Halim Sharar, Dr. Maulvi Abdul Haq, Zafar Ali Khan, Hazrat Mohani, dan lain-lain adalah alumni-alumni Universitas Aligarh syed Ahmad Khan. Pujangga besar Pakistan, DR. Mohammad Iqbal, menulis tentang syed Ahmad Khan:
“Pengaruh dari syed Ahmad meluas ke seluruh India. Beliaulah kiranya seorang modernisir yang dengan tangkasnya menangkap kilatan sinar dari watak zaman yang datang. Obat mujarrab bagi tubuh Islam yang sakit, telah diberikan oleh beliau, sebagaimana di Russia diberikan oleh Mufti Alam Jan. Obat mana tidak lain ialah pendidikan buat setiap Muslim. Akan tetapi letak kebesaran yang sesungguhnya dari syed Ahmad Khan, ialah bahwa beliaulah Muslim India yang pertama kali nnerasakan perlunya pembaharuan alam pemikiran kaum Muslimin, dan beliau pulalah orang pertama yang melaksanakannya. Kita boleh saja berbeda pendapat dalam masalah Agama dengan beliau, akan tetapi kita tidak bisa menolak suatu kenyataan dari beliau, bahwa pengabdiannya yang tulus Ikhlas itu, telah menjadikan zaman kehidupan ummat Islam semerbak harum.”
33
2.6 Metode Pendekatan
Itulah tokoh syed Ahmad Khan, seorang diri merencanakan dan mencetuskan satu revolusi zaman baru bagi ummat Islam India. DR.J.M.S. Baljon, seorang sarjana bangsa Belanda berkata:
“Syed Ahmad Khan telah merencanakan dan melakukan pemberontakan (mutiny) India yang kedua.”
34
Maka sungguh tidak patut dan keliwat batas bila pendiri Aligarh itu, hendak disejajarkan atau ditandingkan dengan pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad. Bagaimana hendak ditandingkan, syed ahmad Khan seorang realis tulen dengan Mirza Ghulam seorang khayalis itu? Bahkan tidaklah patut untuk mengatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad telah berguru secara absentia pada syed Ahmad. Jauh dari pada berguru, Mirza Ghulam hanyalah seorang plagiat besar penunggang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan situasi di India. Ia tidak lebih dari seorang pencuri buah-buah dari hasil tanaman perjuangan pejuang Muslimin.
Untuk kepentingan Islam dan ummatnya misalnya, Mirza Ghulam Ahmad menciptakan gagasan-gagasan yang mustahil dan tampaknya lebih merupakan kisah-kisah advonturir daripada cerita-cerita yang menggelikan. Di antara kissah-kissahnya yang menarik ialah, Mirza Ghulam Ahmad harus menjadikan dirinya lebih dahulu, sebagai Al-Mahdi, Al-Masih, Kreshna, dan last but not least sebagai Nabi dan Rasul. Andaikata masih hendak dicari persamaan­persamaan dengan syed Ahmad Khan dan syed Ahmad Al-Bedawi, maka memang ada juga persamaan-persamaannya. Nama Ahmad kebetulan sama, nama putranya yang terkenal sebagai penerus juga sama, yaitu Mahmud Ahmad; dan nama aliran yang dimiliki mereka sama, Ahmadiyah. Hanya itu saja persamaan-persamaannya.

Akan tetapi tidak demikian pada spirit, perjuangan, maupun ajaran-ajaran mereka itu. Kita sudah tahu perjuangan syed Ahmad Khan, juga perjuangan syed Ahmad Al-Bedawi, yang semasa hidupnya mengadakan perlawanan dan peperangan yang sengit terhadap penyerbu-penyerbu kaum salib dalam perang salib yang ketujuh .

Sedangkan Mirza Ghulam Ahmad adalah sebaliknya, ia dan Ahmadiyah­nya berlindung teduh di bawah naungan salibisme. Sejarah hidup Mirza dan keluarganya serta gerakannya akan membuktikan sendiri keterlibatannya itu. Mungkin perkenalan terhadap Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya, ini masih garis-garis besarnya saja atau masih serba samar dan tidak to the point. Maka untuk menuju pada persoalan-persoalan yang lebih jauh, dan lebih lengkap dari sejarah Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnya, methode-methode yang dianjurkan oleh DR. Muhammad Iqbal akan lebih membantu sepenuhnya. Methode beliau yang pertama ialah: Menyusuri jejak-langkah, sepak­terjang, maupun tingkah laku Mirza Ghulam Ahmad, ajaran-ajarannya, contoh-contoh wahyu yang ia terima dari Tuhannya, dan jika ditambah lagi, kehidupan keluarganya. Methode lainnya, yang juga penting dan effektif ialah, mencari dan menggarisbawahi letak-letak Ahmadiyah dan pendirinya di dalam mata rantai sejarah kaum Muslimin India, sebelum abad keduapuluh, atau meneliti situasi dan kondisi Muslim India dalam abad kesembilanbelas itu, sejak jatuhnya Sultan Tipu.
35
Dengan methode-methode yang dianjurkan Iqbal itu, perkenalan pada tokoh yang empunya cerita di sini, MIRZA GHULAM AHMAD, sampai pada lubuk dasarnya.

—————————-

1 (1). Iih. LH. Qureshi, a Short History of Pakistan, 1967, University of Karachi, hal. 245: ( suddenly they reentered public life with their old demand for having the Qadianis declared non Muslim O without waiting for the result they started a vigorous agitation for the removal of Zafrullah Khan, a recognised leader of the Qadiani community, from the central Cabinet.) ^

2 lih. Syed Sharifuddin Pirzada, Evolution of Pakistan, 1963, Lahore, The All Pakistan Legal Decisions, hal. 444: (The chief minister of West Punjab, Mumtaz Daultana, was not reluctant to take any vigorous stand against it because he felt that it would be politically dangerous). ^

3 lih. LH. Qureshi A Short history of Pakistan hal. 245 (the agitation grew in violence and threatened to destroy ordered life.).^

4 Ucapan seorang Ahmadiyah bernama: Mohammad Idris, dengan alamat: Gg. H. Murtadho XII/A. 280 Matraman Jakarta, bekerja pada perpustakaan kedutaan Pakistan Jakarta. Ia tinggal di India selama 12 tahun, berada di Lahore ketika peristiwa Ahrar tersebut terjadi. ^

5 lih. Naseem Saifi Our Movement Lagos The Islamic Literature 1957 hal. 14: (if they had carried on this religious controversy, as other religious controversies are carried on, they not have perhaps attracted much support. But they clever enough to recognise that the feelings of a muslimin are nowhere more easily and bitterly aroused and his indignation awakened than over a real or fanciful insult to the Holy Prophet. They therefore, began to give out that their activities were meant to preserve the nubuwat of the Holy prophet and to repel attacks on his famous (honor) which had been made by Ahmadis in propagating the belief that the Holy Prophet was not the last of the prophets and that another prophet had appeared who claimed not only to be equal superior to the Holy Prophet. The trick succeeded …). ^

6 lih.: Naseem Saifi-Qur Movement-hal. 16: (The D.LG., C.LD. said in his report: The Ahrar leaders probably do not realise that they are playing with fire. A certain amount of buffoonery can be overlooked, but where feelings are inflamed to such an extent that the murders, riots, the heaping of insults, etc; are threatened, a halt must be called!). ^

7 lih. Syed Abdul Vahid Thoughts and Reflections of Iqbal Lahore 1964 SH. Mohammad Ashraf Lahore Hal. 306: (My dear Pandit Jawahar Lal, Thank you so much for your letter which I receieve yesterday. At the time I wrote in reply to your articles I believed that you had no idea of the political attitude of the Ahmadis. Indeed the main reason why I wrote a reply was to show, espesially to you, how Muslim loyalty had originated and how eventually it had found a revelational basis in Ahmadism: After the publication of my paper I discovered, to my great surprise, that even educated Muslim had no idea of the historical causes which shaped the teachings of Ahmadism. Moreover your Muslim advisers in the Punjab and elsewhere felt pertubed over your articles as they thought you were in sympathy with the Ahmadiyya movement. This was mainly due to the fact that the Ahmadis were jubilant over your articles. The Ahmadi press was mainly responsible for this misunderstanding about you. However I am glad to know that my impression was erroneous. I myself have little interst in theology but had to dabble in it a bit in order to meet the Ahmadis on their own ground. I assure you that my paper was written with the best of intensions for Islam and India. I have no doubt in my mind that the Ahmadis are traitors both to Islam and to India.
I was extremely sorry to miss the opportunity of meeting you in Lahore. I was very ill in those days and could not leave my room. For the last two years I have been living a life practically of retirement on account of continued illness. Do let me know when you come to the Punjab next. Did you receive my letter regarding your proposed union for Civil liberty? As you do not acknowledge it in your letter I fear it never reached you, your sincerely, Sd. Mohammad Iqbal. ^

8 lih: Leonard Binder Religion and Politics in Pakistan 1963 University of California Press hal. 302: (In Mid-May 1953, Maulana Maududi and Maulana Niazi were both sentenced to death by a military court sitting at Lahore. The severity of these sentence in an indication of the outraged view that less restrained branch of the services took of the effect of the Ahmadi agitation.
lih: Misbah-ul-Islam Faruqi- Introducing Maududi-1968 – Darr al-Qalam al-Sur St Kuwait­hal. 113: (.., he was made to face a farce of trial by a military tribunal and was awarded death sentence for writing a pamphlet: the Qadiani Problem. ^

9 lih: L. Binder hal. 302: religious persons throughout Pakistan were, of course shocked at this action of the military, but perhaps even more astounded at the implied generalization of guilt. ^

10 lih: M.I Faruqi hal. 114: (When, after the death sentence he was offered option of making an appeal for mercy, his reply was: I would rather lay down my life than request mercy from tyrans. If God has so wished, I shall gladly submit. But if it is not His decision, no matter what they may plan, they can do no harm to me.) ^

11 lih: L. Binder hal. 303: (the military and many civil servants, apparently, have been so taken in by propaganda of the jamaat they actually believe that Maududi single handely created the whole islamic constitution controvercy. Regardless of whether this view is correct, the important thing to note is that the islamic constitution controversy was considered the root cause of the dreadful effects of the Ahmadi agitation.) ^

12 lih: bulletin Ahmadiyah, al-Hisyam, jemaat Ahmadiyah Ujung Pandang, no. 23/24 th. 1974 hal. 2/3. ^

13 lih. al-Hisyam, no. 25, 1974, hal. 3/7. ^

14 lih. al-Hisyam, no. 25, 1974, hal. 3. ^

15 lih. Saleh A, Nahdi Ahmadiyah di mata orang lain, 1971, Rapen Makassar. hal. 3. ^

16 17 lih. bulletin al-Hisyam, no. 23/24, 1974, hal. 5. Naseem Saifi, Our Movement, hal. 8. ^

17 lih. bulletin al-Hisyam, no. 23/24, 1974, hal. 5. Naseem Saifi, Our Movement, hal. 8. ^

18 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan-tuduhan Ustadz Bakry Wahid B.A. Ujung Pandang, Djema’at Ahmadiyah Indonesia, 1972, hal. 4. ^

19 Syed Abdul Wahid, Thoughts and Reflections of Iqbal, hal. 269: (Suffice it to say that the real nature of Ahmadism is hidden behind the mist of mediaeval mystcism and theology. The Indian Ulama, therefore took it to be a purely theological movement and came out with theological weapons to deal with it. I believe, however, that this was not the proper method of dealing with the movement; and the success of the Ulama was, therefore only partial.”) ^

20 Gibb, Aliran-aliran Modern dalam Islam, terjemah L.E. Hakim, Jakarta Tinta Mas 1954, hal. 77. ^

21 Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah di mata orang lain, hal. 7. ^

22 Saleh A.,Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid Bakry! hal. 14. ^

23 Majallah bulanan Ahmadiyah, Sinar Islam, Jajasan Wisma Damai, no. 13 th. XV/1965, hal. 34 dan lihat Saleh Nahdi, Ahmadiyah membantah Wahid Bakry, hal. 99. NOTE: di majalah Sinar Islam tersebut Ahmadiyah menyebut angka 75 pecahan ummat Islam, akan tetapi di batahan atas Wahid Bakry, 73 saja, manakah yang dipakai oleh Ahmadiyah dari dua angka yang berbeda itu? ^

24 Tempo, 24 Sept. 1974, no. 29, Jakarta Grafiti Pers hal. 3/ 50. ^

25 lih. Gibb, Islam dalam Lintasan sejarah, hal. 130. ^

26 lih.Saleh A. .Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid Bakry, ha1.88 ^

27 lih.Gibb, Islam dalam lintasan sejarah ha1.153, dan lih: Gibb, Aliran-aliran Modern dalam Islam, 1954, Jakarta, Tinta Mas, terjemah L.E. Hakim, ha1.77 ^

28 lih syed Abdul Vahid, Thoughts and Reflections of Iqbal, ha1.277: (“in the north­West of India, a Country more primitive and saint-ridden than the rest of India, the syed’s movement was soon followed by reaction of Ahmadism – a strange mixture of Semetic and Aryan mysticism with whom spiritual revival consist not in the purification of the individuals inner life according to the principles of the old Islamic sufism, but in satisfying the expectant attitude of the masses by providing a promised Messiah”) ^

29 lih. Maryam Jameelah, Islam and Modernism, 1968, Lahore-Mohammad Yusuf Khan, ha1.54: (“Mirza Ghulam Ahmad followed faithfully in the footstep of his Master. In declaring it most desirable to shed one’s blood in the cause of British imperialism but condemning jihad as a crime, he was merely carrying sayyid Ahmad Khan’s ideas to their logical conclusion). ^

30 lih. Maryam Jameelah, Islam and Modernism, hal. 50/54: (In an attemp to reconcile political servility to Islam, Sir sayyid Ahmad Khan cited the example of Yoseph who served the Egyptian Pharaoh loyally and obediently even though the latter was not a Muslim.”) ^

31 lih.Jamil-ud-Din Ahmad, Early Phase of Muslim Political Movement, 1967, Publishers United Ltd. Lahore, ha1.42: (When my late mented friend, mr. Shakespeare, whose I shared and who share mine, wished to give me the taluka of Jahanabad belonging to a prominent family of syeds and yielding an annual income of over one lakh rupees my hearth was deeply
grieved. I said to my self no one would be more despicable then I if, at a time when my nation was facing.ruin I should become a talukadar (lanlord) by acception this property. I refused to accept it and said that I had no intention of stayins in India. This was a fact.”) ^

32 lih. Haroon Khan Sherwani, Islam Tentang Administrasi Negara, Jakarta, Tinta Mas, terjemah M.Arief Lubis, 1964, ha1.198: (The Indian Muhammedans, are they bound in conscience to rebel against the Queen.”) ^

33 lih.The influence of Sir syed Ahmad Khan remained on the whole confined to India. It is probable, however, that he was the first modern Muslim to catch a glimpse of the positive character of the age which was aoming. The remedy for the ills of Islam proposed by him, as by Mufti Alam Jan in Russia, was modern education. But the real greatness of the man consists in the fact that he was the first Indian Muslim who felt the need of a fresh orientation of Islam and worked for it. We may differ from his religious views, but there can be no denying the fact that his sensitive soul was the first to react to the modern age.”) hal. 277, syed Abdul Vahid, Thoughts and Reflections of Iqbal. ^

34 lih.Jamil-ud-din Ahmad, Early of Muslim political Movement, ha1.136. ^

35 lih. syed Abdul Vahid, Thoughts and Reflections of Iqbal, hal. 269:,(A Careful Psychological analysis of the revelations of the founder would perhaps be an effective method of dissecting the inner life of his personality …Another equally effective and more fruitful method, from the standpoint of the plain man, is to understand the real content of Ahmadism in the light of history of Muslim theological thougt in India, at least from the year 1799. The year 1799 is extremely important in history of the world of Islam. In this year, fell Tippu and his fall meant the extinguishment of Muslim hopes for political prestige in India; and I do hope that one day some young student of modern psychology will take it up for serious study.) ^

Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah
Abdullah Hasan Alhadar
1 Ramadhan 1397 H. (16 Agustus 1977 M.)
Sumber  http://ainuamri.wordpress.com/2007/11/15/ahmadiyah-sebagai-isolasionisme/

MY HOME , MY ALBUM , TUTORIAL BLOG , GAME , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC


Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAH COMEN DULU...
MAKASIH TELAH MEMBERI COMEN DAN WUKTUNYA....
SALAM PERSAHABATAN.....
edy putra Jl.cik lanang62 Kauman Rt04/05 Jepara-59417

KLIK MENDENGARKAN LAGU



Photobucket

CARI ARTIKEL DISINI

Loading

COMENTATOR

CARA MEMBUKA KLIK KANAN PADA BLOG JEPARA BUMI KARTINI
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger