EDY PUTRA jepara Jl.cik lanang Nm.62 Rt.04/05Kauman Jepara jateng-59417. CALL; +6281904645456 , +6281390345437. E-mail ; edy_putra@ymail.com , edyputrajepara@gmail.com Malayani ; LAS , BODY REPAER MOBIL , MESIN , CAT , JASA FINISHING MEBEL , CALTER MOBIL , MEBEL,FURNITUR
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Thursday, April 14, 2011

TENTANG IMPOTENSI DISFUNGSI EREKSI

PENYEBAB IMPOTENSI

Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan mempertahankan ereksi untuk melakukan aktivitas seksual dengan baik. Masyarakat biasa menyebutnya impotensi. Kadang beberapa jenis obat yang dikonsumsi makin memperburuk kondisi tersebut.

Secara garis besar, penyebab disfungsi ereksi terbagi dalam dua faktor, psikis dan organis. Psikis biasanya terkait dengan kejenuhan, stres, hilangnya daya tarik seksual atau trauma seksual.

Sementara penyebab organis umumnya dipicu oleh penyakit tertentu, misalnya tekanan darah tinggi, hiperkolesterol, diabetes, atau gangguan prostat. Obat-obatan juga memengaruhi.

Obat-obatan yang bisa mendatangkan efek samping impotensi biasanya adalah obat untuk mengatasi hipertensi, obat antidepresan, obat untuk mengatasi kanker prostat, obat yang bersifat diuretik (meningkatkan frekuensi urin), obat hormon, serta obat penyempitan pembuluh darah.


Kebiasaan mengonsumsi obat kuat juga dapat membuat impotensi betulan. Jadi, berhati-hatilah dan jangan mengobati impotensi tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Apabila obat-obatan yang dikonsumsi menyebabkan terjadinya masalah pada organ vital Anda, beritahukan pada dokter untuk memodifikasi dosisnya atau mencari obat pengganti lain.


Rutin Minum Pereda Sakit Picu Impotensi?

Bagi Anda khususnya pria yang rutin menenggak obat pereda sakit sebaiknya mulai waspada. Penggunaan obat-obat pereda rasa sakit atau kerap disebut painkiller yang terlalu sering diduga berkaitan dengan gangguan fungsi seksual di kalangan kaum Adam.

Studi terbaru yang dipublikasikan Journal of Urology mengindikasikan adanya hubungan antara impotensi dan penggunaan obat-obat penahan rasa sakit. Hubungan ini bahkan tetap muncul meskipun peneliti telah memperhitungkan beberapa faktor seperti usia dan beberapa jenis penyakit yang mungkin dapat menjelaskan keterkaitan.

Berdasarkan riset tersebut, pria yang secara rutin menenggak obat-obat seperti aspirin, acetaminophen, ibuprofen, dan celebrex berisiko mengalami disfungsi ereksi (DE) hingga 38 persen lebih besar, ketimbang pria yang tidak menenggak obat yang juga disebut nonsteroidal anti-inflammatory itu.

Menurut penjelasan Dr Joseph Gleason, urolog yang menulis penelitian ini, obat-obat pereda sakit memang dapat mengganggu produksi hormon yang memicu ereksi pada pria. Hal itu setidaknya dapat membantu memberikan penjelasan akan temuan ini.

Namun, Gleason menekankan, penelitian ini tidak serta-merta membuktikan bahwa obat painkiller dapat menyebabkan impotensi. Menurutnya, faktor-faktor lainnya yang belum dapat diketahui sangat dimungkinkan ikut berperan memicu DE.

Sebagai contoh, banyak pria yang meminum aspirin dalam dosis rendah karena  dalam kondisi berisiko tinggi mengalami serangan jantung. Alhasil, pembuluh darah mereka tidak sedang dalam kondisi terbaiknya. Secara otomatis, hal itu juga dapat memengaruhi tingkat kekerasan penis.

"Kami menyebut penis sebagai termometer bagi penyakit vaskuler atau problem  yang berkaitan dengan pembuluh darah," ujar Dr Brant Inman, urolog dari Duke University Medical Center di North Carolina, yang tak terlibat dalam riset ini.

Inman menambahkan, pembuluh arteri dalam penis salurannya lebih kecil ketimbang yang mengalir di jantung dan, oleh sebab itu, mungkin saja bisa tersumbat selama beberapa tahun sebelumnya. Arteri yang menyempit dapat menghalangi aliran darah yang seharusnya membuat penis berkembang dan menjadi keras.

Lima kali seminggu
Dalam penelitiannya, Gleason beserta koleganya menganalisis hasil kuesioner sekitar 81.000 pria berusia 45 hingga 69. Sekitar 50 persen pria mengaku mengonsumsi obat pereda sakit secara teratur (sekurangnya lima kali dalam seminggu) dan kurang dari sepertiganya dilaporkan mengalami impotensi mulai dari level ringan hingga parah.

Pria yang mengaku rutin menenggak painkiller, 64 persennya mengatakan, mereka tidak pernah mengalami ereksi. Sedangkan pria yang mengaku tidak sering menggunakan obat, kasus DE hanya ditemukan 36 persen.

Setelah memperhitungkan beragam faktor, seperti usia, berat badan, tensi, dan riwayat sakit jantung, peneliti masih menemukan risiko lebih tinggi di kalangan pria yang menggunakan painkiller, yakni mencapai 38 persen.

Oleh karena penelitian ini tidak menguji obat secara langsung, Inman berpesan agar pria tidak perlu menghentikan penggunaan painkillers karena khawatir tidak bisa ereksi.


Awas, Kolesterol Tinggi Bisa Impotensi

Gangguan ereksi memang lebih banyak disebabkan oleh faktor psikis, seperti stres dan kecemasan. Namun, sebenarnya banyak juga gangguan penyakit yang bisa menyebabkan pria merana karena penisnya tidak bisa berfungsi. Salah satunya adalah karena kolesterol tinggi.

Seperti diketahui, kerja penis sangat bergantung pada kondisi pembuluh darah di dalamnya. Menjadi keras tidaknya ereksi ditentukan oleh bugar tidaknya kondisi pembuluh darah penis. Makin sehat pembuluh darah, makin keras kualitas ereksinya.

Oleh karena itu, bisa dimaklumi bila terjadinya gangguan pada pembuluh darah, ereksi bisa gagal, terutama jika aliran darah ke penis berkurang. Jika penyempitan ini terjadi di area yang menuju organ genital, ereksi pun tidak akan maksimal, bahkan bisa gagal.

Kerusakan pembuluh darah, antara lain, ditimbulkan oleh kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan diabetes. Penyakit-penyakit itu dapat menyebabkan terjadinya penimbunan, penyempitan, dan pengerasan pembuluh darah.

Penelitian tahun 2005 di Swedia menemukan pria yang kadar kolesterolnya 270 mg/dL atau lebih memiliki risiko kanker testis 4 kali lebih besar dibanding pria yang kadar kolesterolnya 220 atau kurang.

Untuk mencegahnya, jagalah pola makan, hindari rokok dan lakukan olahraga secara rutin. Kegiatan olahraga terbukti efektif meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) dalam darah dan menurunkan kolesterol jahat (LDL).


Beragam Penyebab Loyonya Mr.P

Selaras dengan kondisi tubuh, fungsi organ seksual tidak selamanya dalam kondisi bugar. Ada kalanya kemampuan ereksi bisa padam. Meski hanya sesekali waktu, seorang pria pasti pernah mengalami disfungsi ereksi atau impotensi.

Namun perlu diwaspadai jika gangguan ini menetap, karena kehidupan seksual pastinya akan terganggu selain harga diri seorang pria pun dipertaruhkan. Maklum saja, kemampuan ereksi erat kaitannya dengan masalah "kejantanan" pria.

Paling tidak, ada tiga tahap penting untuk terjadinya ereksi. Pertama adalah rangsangan seksual, yang bisa berasal dari indra penglihatan, pendengaran, perabaan atau pikiran.

Tahap kedua adalah komunikasi rangsangan seksual dari saraf otak ke saraf penis. Tahap selanjutnya adalah menjadi rileksnya pembuluh darah yang mensuplai penis sehingga membuat darah lebih banyak masuk ke dalam struktur silinder sehingga penis menjadi tegang.

Jika terdapat gangguan pada salah satu atau beberapa tahapan ini, maka impotensi atau disfungsi ereksi akan rawan terjadi.

Beragam penyebab Impoten

Penyebab gagalnya ereksi secara garis besar dibagi menjadi dua, yakni faktor fisik dan non fisik. Faktor non fisik atau psikis antara lain trauma masa kecil, stres, dan kecemasan. Apa pun yang membuat seorang lelaki stres dan tidak bisa rileks, dapat membuat vitalitas seksualnya padam.

Sementara itu, kondisi lain yang dapat menyebabkan penis tidak bisa berfungsi adalah komplikasi penyakit. Misalnya gangguan saraf akibat diabetes, kelainan pembuluh darah, obat-obatan tertentu atau gangguan hormonal.

Obat darah tinggi dalam jangka panjang misalnya, juga bisa membuat penis loyo. Oleh karena itu, usahakanlah untuk menurunkan tekanan darah tanpa meminum obat.

Penyakit penyebab penis tidak bisa mengeras bukan hanya diabetes, melainkan juga obesitas atau kegemukan.

Menurut pakar andrologi, Prof. dr. Wimpie Pangkahila, secara umum obesitas akan menyebabkan perubahan pada total jumlah darah dan fungsi dari jantung. Distribusi lemak di sekitar dada dan daerah perut dapat membatasi proses pernapasan dan peredaran darah, yang pada akhirnya akan mengubah fungsi dari respiratori.

Perubahan ini, kata Wimpie, akan menurunkan fungsi dari organ-organ yang berkaitan dengan fungsi seksual yang pada akhirnya menghasilkan gangguan ereksi.

Sementara itu menurut corporate health trainer dr.Phaidon L.Toruan  obesitas dapat menurunkan produksi hormon pria atau testosteron dan free testosteron (bentuk aktif dari hormon testosteron).  Kondisi ini, menurut Phaidon dapat meningkatkan peluang terjadinya disfungsi ereksi.

"Obesitas meningkatkan berbagai faktor risiko yang berhubungan dengan turunnya testosteron seperti obstructive sleep apnea (penyumbatan saluran nafas waktu tidur), resisrensi insulin (diabetes), dan penyakit sindroma metabolik. Pernyataan tentang ini dibuat Andret Guay dari Harvard Medical School yang dipublikasikandi Journal Andrology tahun 2009," ujarnya.  Solusi untuk mengatasi kelebihan lemak yang memicu obesitas, kata Phaidon,  adalah dengan melakukan olahraga secara teratur dan mengatur diet. Penggunaan tambahan hormon, seperti hormon testosteron pada pria adalah salah satu alternatif untuk mempermudah usaha.


Impotensi Bisa Disembuhkan

Bagi kaum pria, penyakit impotensi atau dikenal dengan istilah medis sebagai disfungsi ereksi, merupakan penyakit paling memalukan dan paling menyedihkan. Sudah cukup banyak pria yang mengalami impotensi namun kerap belum mengalami penyembuhan berarti.

Pakar seks terkemuka Dr Boyke Dian Nugraha, Sp.OG, MARS, mengatakan penyakit disfungsi ereksi alias impoten tetap bisa disembuhkan. "Tentu, yang namanya impoten itu paling memalukan dan menyedihkan buat pria. Tapi apapun itu penyakit seks, impoten, frigid, dan sebagainya tetap bisa disembuhkan," kata Dr Boyke dalam acara talkshow dan peluncuran bukunya bertema "It's All About Seks" di toko buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur, Minggu (18/4/2010).

Boyke menjelaskan, salah satu faktor utama penyebab impotensi justru berasal dari faktor psikologis seseorang. Permasalahan yang bisa menimbulkan tekanan psikologis seperti stres bisa membawa dampak sampai ke "urusan ranjang". "Lima puluh persen itu karena faktor psikologis. Banyak faktor, mulai dari istri galak, kena PHK, masalah ekonomi, dan sebagainya, akhirnya jadi terbawa dan jadi masalah," tuturnya.

Sementara 50 persen faktor lainnya, disebabkan oleh masalah secara fisik. Berbagai penyakit yang diderita seseorang bisa berdampak kepada kehidupan seksualnya, termasuk untuk bisa ereksi. "Sisanya ini karena kelainan fisik. Terbagi-bagi bisa dari kelainan fisik, darah tinggi, hipertensi, diabetes, kolestrol, asam urat, kelainan pembuluh darah dan saraf, dan trauma luka tulang blakang," terangnya.

Meski demikian ia meyakinkan, impotensi tetap dapat disembuhkan dengan metode pengobatan yang tepat. Impotensi karena faktor psikologis, misalnya, dapat disembuhkan dengan konsultasi ke dokter dan terapi. "Pasien impoten memang mengalami rendah diri dan malu. Maka perlu terapi ke dokter, juga misalnya, olah raga, makan makanan yang sehat, berhenti merokok dan minuman keras," tuturnya.

Ia juga menegaskan, tidak perlu mencoba-coba pengobatan alternatif yang tidak jelas hasilnya. Ditakutkan, bukannya mengobati, pengobatan alternatif tersebut justru memperparah penyakit. "Enggak bisa, walaupun kita ke Mak Erot, makan tangkur buaya, darah ular, dan sebagainya, tetap enggak bisa disembuhkan. Nanti malah memperparah. Datanglah ke dokter, penyakit seks itu bisa diobati," tuturnya.


MY ALBUM , TUTORIAL BLOG , GAME , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAH COMEN DULU...
MAKASIH TELAH MEMBERI COMEN DAN WUKTUNYA....
SALAM PERSAHABATAN.....
edy putra Jl.cik lanang62 Kauman Rt04/05 Jepara-59417

KLIK MENDENGARKAN LAGU



Photobucket

CARI ARTIKEL DISINI

Loading

COMENTATOR

CARA MEMBUKA KLIK KANAN PADA BLOG JEPARA BUMI KARTINI
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger