EDY PUTRA jepara Jl.cik lanang Nm.62 Rt.04/05Kauman Jepara jateng-59417. CALL; +6281904645456 , +6281390345437. E-mail ; edy_putra@ymail.com , edyputrajepara@gmail.com Malayani ; LAS , BODY REPAER MOBIL , MESIN , CAT , JASA FINISHING MEBEL , CALTER MOBIL , MEBEL,FURNITUR
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Tuesday, April 26, 2011

IMAM AL- GHAZALI DALAM MENYIKAPI PUASA

SALAH satu kelebihan Imam al-Ghazali (1058 - 1111 M) dalam mengulas persoalan agama adalah ketajaman instingnya dalam menangkap ruh agama. Penguasaan ilmu-ilmu agama yang mumpuni, ketajaman instingtif dalam menangkap pesan-pesan dasar agama, plus pengamatan yang cermat terhadap tradisi beragama, itulah yang terasa di dalam kitabnya: Ihyaa Ulum-i ad-Din. Kitab yang ditulis untuk menghidupkan-ulang ilmu-ilmu agama ini merupakan injeksi darah bagi metode pengulasan agama yang galibnya sudah kering kerontang dan mulai sekarat.

Namun berkat al-Ghazali, beberapa ulasan soal agama kembali menemukan elan-vitalnya. Ambillah contoh dari kritik al-Ghazali soal tradisi puasa. Sejak sembilan abad lalu, penambahan jenis--bahkan pengelipatan volume konsumsi--oleh al-Ghazali sudah dirasakan sebagai ironi bulan puasa. "Memakan apa yang tak dimakan di selain bulan Ramadan, mengonsumsi sesuatu lebih banyak dari hari-hari non-puasa, sungguh telah jauh melenceng dari ruh puasa," tulisnya. Dalam rumusan al-Ghazali, esensi puasa adalah upaya untuk melemahkan energi-energi syaithani yang ada pada diri manusia agar tidak terlalu berdaya untuk berbuat jahat. Pelemahan itu tidak mungkin tercapai kecuali melalui pengurangan. "Wa lan yahtsul dzaalika illaa bi at-taqliil," tandasnya.

Apa yang dikeluhkan al-Ghazali di masanya tampaknya berlaku juga di masa kita. Sudah bukan rahasia, saban kali Ramadan tiba, tingkat konsumsi di negara-negara muslim justru melonjak tajam. Logisnya, puasa akan menekan tingkat konsumsi masyarakat ke angka yang lebih rendah dari hari-hari biasa. Namun yang terjadi justru paradoks ini: orang seperti menunda makan siang untuk disikat di kala malam. Puasa seperti men-jamak ta'khir apa yang luput tadi siang, ditambah panganan-panganan penunjang. Padahal, inti dari ibadah puasa adalah pengurangan. Taqliil, kata al-Ghazli, bukan penundaan, apalagi pengelipatan.

Dan jika pun dikaitkan dengan upaya mencapai takwa, aspek pengurangan konsumsi itu pun masihlah belum memadai. Ini barulah tangga pertama menuju takwa. Maksud terdalam dari puasa--kata al-Ghazali lebih lanjut--adalah pengosongan (al-khawaa') dan penaklukan keinginan-keinginan diri (kasr al-hawaa) yang bersifat fisikal. Lewat cara seperti itulah seseorang mampu beralih dari alam fisikal menuju alam spiritual. Dengan peralihan fokus dari alam fisikal ke alam spiritual, barulah jiwa seseorang diyakini mampu mencapai level takwa. Pengurangan intensi pada aspek-aspek yang fisikal diandaikan akan meninggikan sensitivitas terhadap alam spiritual.

Bagi al-Ghazali, tersambungnya diri seseorang ke alam transendental ('aalamal-malakuut)--yang konon menyingkapkan diri pada momen lailatul qadar--hanya mungkin terjadi bila perut dalam keadaan kosong. Terisinya rongga-rongga di antara hati dan dada dengan limpahan pangan sudah cukup membuat orang terhalang (mahjuub) untuk menyingkap alam transendental yang menampilkan diri sekali setahun itu. Intinya, melalui puasa al-Ghazali mengajak kita merasakan pengalaman spiritual. Dimulai dari pengurangan terhadap konsumsi yang fisikal, dilanjutkan dengan pengosongan diri dari selain Yang Transendental.

Dari ulasan di atas, mudah saja membuat indikator kasat mata untuk mengevaluasi berhasil-tidaknya puasa kita. Pertama, bila belanja dapur di bulan puasa lebih besar dari di bulan lainnya, berarti ada yang sia-sia dari puasa kita. Kedua, bila berat badan tidak menyusut, bahkan stabil atau malah bertambah, berarti proyek taqliil sudah gagal bekerja. Itulah dua contoh pengukuran terhadap indikator yang kasat mata. Untuk yang tidak kasat mata, sebaiknya tiap orang bermuhasabah sendiri-sendiri. Tak perlu intervensi al-Ghazali, apalagi mengundang campur tangan ormas anarkhi.

MY ALBUM , TUTORIAL BLOG , GAME , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAH COMEN DULU...
MAKASIH TELAH MEMBERI COMEN DAN WUKTUNYA....
SALAM PERSAHABATAN.....
edy putra Jl.cik lanang62 Kauman Rt04/05 Jepara-59417

KLIK MENDENGARKAN LAGU



Photobucket

CARI ARTIKEL DISINI

Loading

COMENTATOR

CARA MEMBUKA KLIK KANAN PADA BLOG JEPARA BUMI KARTINI
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger