EDY PUTRA jepara Jl.cik lanang Nm.62 Rt.04/05Kauman Jepara jateng-59417. CALL; +6281904645456 , +6281390345437. E-mail ; edy_putra@ymail.com , edyputrajepara@gmail.com Malayani ; LAS , BODY REPAER MOBIL , MESIN , CAT , JASA FINISHING MEBEL , CALTER MOBIL , MEBEL,FURNITUR
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Wednesday, February 9, 2011

KRONOLOGI AHMADIYAH CIKEUSIK VERSI POLRI DAN KONTRAS

Ada dua versi kronologis terjadinya penyerangan sadis terhadap Ahmadiyah Cikeusik, Minggu (6/2) yang dilontarkan oleh Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo dan Haris Azhar, Koordinator Kontras. Kapolri mengatakan penyerangan itu tidak dilakukan oleh ormas, namun oleh warga desa Cibede. Dan menurut versi Polisi, Parman (Ismail Suparman), pimpinan jemaah Ahmadiyah Cikeusik, dievakuasi oleh Forum Komunikasi Pimpinan Masyarakat Daerah Pandeglang ke kantor polisi agar terhindar dari penertiban (amuk?) massa.

Sementara menurut KONTRAS, Parman, istrinya dan Tatap, Ketua Pemuda Jemaah Islamiyah, ditangkap dengan alasan ingin meminta keterangan atas status imigrasi istri Parman, yang berkewarganegaraan Filipina. Menurut Kontras, polisi yang berada di Tempat Kejadian Perkara (TKP) hanya diam saja, tanpa melakukan pertolongan,sedangkan dari kronologis yang disampaikan oleh Kapolri, polisi memang hanya menghimbau. .

Menurut Kepala Polri Jenderal Pol Timur Pradopo, sekelompok orang melakukan penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah Cikeusik hingga melakukan kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah, adalah warga desa Cibede, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten.Namun pihaknya tak menutup kemungkinan adanya penyusup atau pihak yang menunggangi insiden berdarah itu. Sedangkan menurut KONTRAS, massa datang dari arah utara dan selatan,juga dari belakang tanpa menyebutkan arah. Untuk lebih jelasnya, berikut kronologis penyerangan jemaah Ahmadiyah versi polisi dan versi KONTRAS.

Kronologis Penyerangan jemaah Ahmadiyah versi polisi :

Pada Kamis (3/2) sudah diperoleh informasi bahwa Ahmadiyah akan melakukan kegiatan di desa Cibede,Kecamatan Cikeusik, Pandeglang yang meresahkan warga setempat. Terkait dengan hal itu, Forum Komunikasi Pimpinan Masyarakat Daerah Pandeglang langsung mengevakuasi pimpinan Ahmadiyah setempat yang bernama Ismail Suparman agar terhindar dari penertiban masyarakat pada Sabtu (5/2) pukul 15.00 ke Polres.

Pada Minggu (6/2) sekitar pukul 07.00 WIB, ada seseorang bernama Deden membawa dua mobil berisi 15 orang dari Ahmadiyah Pusat mendatangi rumah Ismail yang saat itu kosong dan mengklaim rumah itu sebagai inventaris Ahmadiyah.Deden menyatakan, apabila ada pihak yang ingin merusak dan menertibkan rumah itu maka harus dipertahankan karena rumah tersebut adalah inventaris Ahmadiyah. Polri menghimbau agar mereka mau dievakuasi. Namun dalam waktu bersamaan sekitar 1500 orang warga telah melakukan penyerangan hingga berujung bentrokan yang menimbulkan korban jiwa.

Berikut kronologis penyerangan Ahmadiyah Cikeusik menurut KONTRAS :

Sabtu (5/2) sekitar pukul 09.00 WIB polisi dari Polres Pandeglang menangkap Parman (Mubaligh Ahmadiyah Pandeglang kelahiran Cikeusik), istrinya dan Tatep (Ketua Pemuda Ahmadiyah).Polisi membawa mereka ke Polres Pandeglang dengan alasan ingin meminta keterangan atas status imigrasi istri Parman, yang berkewarganegaraan Filipina.Karena penahanan ini, 25 orang warga Ahmadiyah Cikeusik,mayoritas orang tua dan anak-anak, diungsikan ke rumah keluarga Parman yang berada di seberang desa Umbulan. Mendengar kabar tentang penahanan ini,delapan belas pemuda Ahmadiyah dari Jakarta dan Serang berangkat menuju Cikeusik untuk melakukan pengamanan terhadap warga Ahmadiyah yang masih berada di sana.

Minggu (6/2), mereka tiba di Cikeusik dan berjaga-jaga di rumah paman, bersama tiga orang pemuda Ahmadiyah Cikeusik.Pada saat itu, kira-kira pukul 9.00 pagi, datanglah enam orang polisi dari reserse kriminal datang ke lokasi menggunakan mobil pick up kijang polisi beserta dua truk Dalmas ( pengendali massa). Mereka sarapan pagi bersama warga Ahmadiyah dan berdiskusi. Mereka (Polisi ) meminta agar warga segera meninggalkan lokasi dan tidak melakukan penyerangan jika ada serangan.Warga Ahmadiyah menolak.

Minggu (6/2) sekitar pukul 10.00 pagi massa yang jumlahnya diperkirakan sebanyak 500 orang berdatangan dari arah utara dan mendekati lokasi warga Ahmadiyah,di desa Umbulan, kecamatan Cikeusik, Pandeglang. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan golok, “Ahmadiyah hanguskan! Ahmadiyah bubarkan! Polisi minggir, kami yang berkuasa,” Polisi saat itu diam saja. Saat massa mendekati rumah Parman, Deden Sujana, warga Ahmadiyah yang berjaga-jaga, berusaha menenangkan warga. Namun massa malah makin beringas. Terjadilah pemukulan atas Deden. Saat itu dua puluh satu warga Ahmadiyah yang berada di dalam rumah keluar dan massa sempat mundur.

Sementara itu dari arah selatan, massa yang datang bertambah banyak. Saksi di TKP memperkirakan jumlah massa yang mengepung itu 1500 orang. Saat itu serangan semakin masif. Terjadilah perlawanan dan adu lempar.Massa menyerang warga Ahmadiyah dengan menggunakan senjata golok,pedang dan tombak.Batu juga digunakan untuk memukul korban. Warga Ahmadiyah semakin terpojok dan mereka masuk ke sawah, lalu bubar. Mereka dikejar. Yang tertangkap di sawah-sawah ditelanjangi dan dipukuli beramai-rama secara brutal.

Adapun mereka yang tertangkap itu adalah Rony,Mulyadi, Tamo dan Masruddin. Massa terus saja memukuli mereka. Ada tiga orang yang tewas dan satu orang berhasil menyelamatkan diri. Sebagian besar tubuh mereka penuh luka sayatan, tusukan golok, wajah rusak dan luka lebam. Korban berjatuhan dari pihak Ahmadiyah.Warga Ahmadiyah yang dapat melarikan diripun tak luput dari banyak luka senjata tajam dan memar. sejumlah orang yang mengalami luka serius yang dievakuasi ke Rumah Sakit Serang.

Pertanyaannya, darimanakah Kapolri tahu bahwa yang melakukan penyerangan itu memang warga desa Cibede dan bukan ormas? Melihat adanya tindakan antisipasi dari polisi yang berusaha mengingatkan, apalagi sampai ada evakuasi yang dilakukan oleh Forum Komunikasi Pimpinan Masyarakat Daerah Pandeglang terhadap Parman,istri dan kawannya ke kantor polisi agar terhindar dari penertiban (amuk?) massa tidakkah ini menceritakan pada kita, bahwa penyerangan ini memang sudah diketahui oleh polisi dan pihak lain? Kalau polisi sudah tahu tentang penyerangan ini, mengapa saat itu hanya enam orang polisi dari reserse kriminal datang ke lokasi menggunakan mobil pick up kijang polisi beserta dua truk Dalmas ( pengendali massa)?

Membaca berita ini, hati ini bergetar. Terbayang di mata kekejaman demi kekejaman yang terjadi saat itu. Dan yang menjadi pelakunya adalah orang-orang yang mengaku beragama.Tak percaya, tapi nyata.Benarlah kata poster seorang demonstran tadi siang: Rakyat dibantai, SBY Kamu dimana?
Baca juga kronologi cikeusik versi ahmadiyah
Sumber http://hukum.kompasiana.com/2011/02/07/dua-versi-kronologis-penyerangan-sadis-terhadap-ahmadiyah-cikeusik

TUTORIAL BLOG , GAME online , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC , MY FACEBOOK
 

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAH COMEN DULU...
MAKASIH TELAH MEMBERI COMEN DAN WUKTUNYA....
SALAM PERSAHABATAN.....
edy putra Jl.cik lanang62 Kauman Rt04/05 Jepara-59417

KLIK MENDENGARKAN LAGU



Photobucket

CARI ARTIKEL DISINI

Loading

COMENTATOR

CARA MEMBUKA KLIK KANAN PADA BLOG JEPARA BUMI KARTINI
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger