EDY PUTRA jepara Jl.cik lanang Nm.62 Rt.04/05Kauman Jepara jateng-59417. CALL; +6281904645456 , +6281390345437. E-mail ; edy_putra@ymail.com , edyputrajepara@gmail.com Malayani ; LAS , BODY REPAER MOBIL , MESIN , CAT , JASA FINISHING MEBEL , CALTER MOBIL , MEBEL,FURNITUR
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Wednesday, March 10, 2010

DULMATIN AKHIRNYA TEWAS

Dr. AHMAD FAUZI

Bermula ketika Densus 88 menyergap empat orang pria di Gg Asem tersebut dan menembak mati dua diantaranya. Sontak warga sekitar terkejut lantaran kejadian yang begitu cepat dan tak terduga. "Kaget banget. Itu kan orang yang numpang di rumah dr Fauzi," seru Rio, 22, warga Gg Asem RT 003 RW 05.

Tokoh masyarakat yang pernah menjadi Ketua RT 003 RW 05 selama delapan tahun, Rahman, menuturkan, kemungkinan empat orang yang disergap Densus 88 merupakan anggota jemaah pengajian Abu Jibril di Masjid Al Munawarroh, Tanah Harja, Pamulang. "Karena mereka pakai baju gamis. dr Fauzi itu sejak dua tahun bergabung dengan pengajian Abu Jibril, rumahnya selalu didatangi orang-orang yang pakai baju gamis," terangnya.

Menurutnya, istri dr Fauzi pun sering mengenakan gamis dan berkerudung serta mengenakan cadar.

Sebelum menjadi jemaah Abu Jibril, dr Ahmad Fauzi akrab dengan warga sekitar. Ia sering mengikuti pengajian yang diadakan warga. Serta, aktif berkegiatan di lingkungan warga.

"Pukul 12.30 WIB, ada anggota Densus 88 datang ke rumah saya minta ditunjukin rumah dr. Ahmad Fauzi," ujar Ketua RT 003 RW 05, Pamulang Barat.

Tak ada yang menyangka gang kecil di Jl Setiabudi, Pamulang, Tangerang Selatan, disambangi oleh Detasemen Khusus (Densus) 88, Selasa (9/3). Bahkan, Densus 88 langsung menyebutkan nama seorang dokter yang berpraktek di Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang yang menetap di Gg Asem No. 15, Jl Setiabudi, RT 003 RW 05, Kelurahan Pamulang Barat, Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan.

 Sebelum menjadi jemaah Abu Jibril, dr Ahmad Fauzi akrab dengan warga sekitar. Ia sering mengikuti pengajian yang diadakan warga. Serta, aktif berkegiatan di lingkungan warga.

Namun, sejak bergabung menjadi jemaah Abu Jibril, dokter yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang ini tak lagi akrab dengan warga. "Dia jadi tertutup. Nggak pernah lagi ikut pengajian," ujar Rahman dengan logat betawi.

Rahman, 45, yang juga kakak Ketua RT 003  RW 05 Muhammad Zaini, menerangkan dr Fauzi bukan penduduk asli Gg Asem. "Dia itu menetap di sini sejak 6-7 tahun lalu. Dia orang asli Gaplek, Pamulang."

Masih menurutnya, dr Fauzi menetap di Gg Asem No. 15 bersama istri dan tiga orang anaknya. "Itu rumah pribadinya. Di situ ada tempat praktik dia dan taman pendidikan anak-anak juga, istrinya yang ngajar. Itu bukan kontrakan atau kos-kosan."

Terkait dengan empat orang yang disergap Densus 88, Rahman, menjelaskan bahwa empat orang tersebut bukanlah penduduk setempat. Mereka warga pendatang yang menumpang tinggal di rumah dr Fauzi. "Tapi nggak jelas identitasnya dan dari mana juga nggak jelas. Sudah satu bulan di situ," kata dia.

Zaini pun mengaku dr Fauzi tidak pernah melapor tamu yang menumpang di rumahnya.  Berdasarkan informasi dari para warga, Rahman mengatakan, dr Fauzi dan tamu-tamunya yang berpakaian gamis sering shalat berjamaah di Mushola At Taqwa yang terletak di depan rumah dr Fauzi. "Tapi mereka nggak pernah nginep. Baru yang ini saja menginap satu bulan."

Kendati demikian, ada hal yang ganjil yang dirasakan warga. "Setiap jam tiga pagi, dr Fauzi selalu mengumandangkan adzan," tandas Rio.

Hingga kini, polisi masih memintai keterangan terhadap istri dan tiga orang anak dr Fauzi. Di rumahnya juga disita satu unit laptop serta satu karung yang berisi buku-buku dan berkas berkas.

PERNYATA'AN  KAPOLRI

Dalam penyergapan kemarin, tim Densus 88 juga menemukan berbagai barang bukti, di antaranya tiga remote control pengendali bom dalam jarak jauh, lima lembar gambar rangkaian bom yang telah dipersiapkan, slip penukaran mata uang peso pada 2003 di money changer di Menteng, KTP, ponsel, paspor yang dikeluarkan pihak Imigrasi Jaktim. Lalu ada juga pistol revolver kaliber 38 beserta pelurunya dan jenis FM yang bukan buatan Indonesia. Ada juga SIM card yang dibeli di Aceh lalu handycam dan notebook serta dokumen lainnya yang tak dapat diungkapkan pihak Polri. Semua itu telah disita pihak Polri.

Kapolri Bambang Hendarso Danuri memastikan Dulmatin, gembong teroris yang keahliannya disebut-sebut di atas Dr Azhari sekaligus buron di Filipina, telah tewas tertembak dalam penyergapan oleh Densus 88 di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.

Kapolri lalu menunjukkan tiga gambar kepala dengan nomor L/P/001, L/P/002, dan L/P/003. Mereka teridentifikasi sebagai Yahya Ibrahim alias Mansyur atau Dulmatin yang berperan sebagai pemasok senjata dan amunisi serta membiayai kegiatan teroris senilai Rp500 juta. Ia juga merupakan perakit bom andal yang kemampuannya berada di atas Dr Azhari. Ia tewas tertembak dengan senjata api di tangannya.

Sementara itu, dua orang lainnya yang juga tertembak mati yakni Ridwan dan Ibrahim. "Mereka adalah pengawal Dulmatin," terang Kapolri. 

Kepala Tim Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokes) Mabes Polri menjelaskan penyelidikan terhadap para korban menggunakan metode indentifikasi internasional. "Dari tahi lalat, alis mata, dan bentuk dagu, semuanya cocok. Setelah itu, ada pengambilan data primer yakni pengambilan sidik jari dan DNA. "Polri sudah punya database DNA para pelaku kriminal. Untuk itu, kami pun mencocokkan DNA ketiga korban dengan DNA istri dan anaknya.

Dinyatakan, "Jenazah nomor 001 match 100% dengan profile DNA di database kami dengan keakuratan 100% dan tingkat kesalahan 1:100 ribu triliun." Kapolri melanjutkan, "Dengan tingkat keakuratan 100%, jenazah nomor 001 adalah Dulmatin alias Yahya alias Masyur alias Joko Pitono."

Dalam keterangan resminya itu, Kapolri tidak memberi kesempatan tanya jawab lebih untuk para wartawan. Ia pun tak bersedia memberikan penjelasan apakah Dulmatin memiliki agenda kegiatan terorisme terkait dengan rencana kedatangan Presiden AS Barack Obama pada bulan ini.

PERNYATA'AN PRESIDEN

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan kabar tentang kematian teroris Dulmatin dalam sebuah jamuan makan siang oleh PM Australia Kevin Rudd di Gedung Parlemen Australia di Canberra, Rabu (10/3).

"Saya dapat berita dari Tanah Air, bahwa setelah Indonesia melumpuhkan tokoh teroris Dr Azahari dan Noordin M Top, yang mengganggu Asteng. Alhamdulilah Polisi Indonesia telah melumpuhkan satu tokoh teroris Asia Tenggara lainnya Dulmatin, dalam sebuah operasi polisi di Jakarta," kata Presiden yang disambut tepuk tangan hadirin.

Penumpasan dan pencegahan aksi teroris, lanjut Presiden adalah hal penting yang harus dilakukan demi keselamatan manusia dunia.

"Keselamatan manusia Indonesia dan manusia Australia sangat penting. Mari kita bekerja sama secara global untuk menyelamatkan manusia dari kejahatan terorisme di muka bumi," kata Presiden.

Dalam pidatonya, Presiden banyak mengungkapkan hal lucu dalam kunjungan kenegaraannya kali ini seperti banyaknya mahasiswa Indonesia di Australia saat ini.

"Dua menteri saya Mendag Mari Pangestu dan Menlu Marty Natalegawa merupakan lulusan Australia. Mungkin hal itu yang membuat banyak banyak yang kuliah di Australia agar bisa menjadi menteri kelak," katanya.

Presiden mengatakan perlunya peningkatan hubungan kerja sama antarkedua negara untuk membawa masyarakat kedua negara ke masa depan yang lebih cerah. (mediaindonesia)


Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAH COMEN DULU...
MAKASIH TELAH MEMBERI COMEN DAN WUKTUNYA....
SALAM PERSAHABATAN.....
edy putra Jl.cik lanang62 Kauman Rt04/05 Jepara-59417

KLIK MENDENGARKAN LAGU



Photobucket

CARI ARTIKEL DISINI

Loading

COMENTATOR

CARA MEMBUKA KLIK KANAN PADA BLOG JEPARA BUMI KARTINI
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger