EDY PUTRA jepara Jl.cik lanang Nm.62 Rt.04/05Kauman Jepara jateng-59417. CALL; +6281904645456 , +6281390345437. E-mail ; edy_putra@ymail.com , edyputrajepara@gmail.com Malayani ; LAS , BODY REPAER MOBIL , MESIN , CAT , JASA FINISHING MEBEL , CALTER MOBIL , MEBEL,FURNITUR
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Monday, February 15, 2010

FLIM MUD MAX , LUMPUR LAPINDO

 TRAILLER MUD MAX





Ide pembuatan "Mud Max", seperti diakui oleh produser eksekutif Chris Fong, muncul pada tahun 2007 setelah dirinya menuntaskan laporan keuangan untuk sebuah bank terkait semburan lumpur di dekat ladang gas milik PT Lapindo Brantas.

"Saya membuat laporan itu selama 3 bulan, dan mencari tahu apakah semburan lumpur itu disebabkan oleh kesalahan manusia. Setelah laporan selesai, saya mulai tergerak untuk membuat film dokumenter yang akan kami jual sebagai film dokumenter," kata Chris dalam sesi jumpa pers.

"Mud Max" dibuat dengan anggaran sekitar 60.000 dolar Amerika dan melibatkan beberapa peneliti dari Amerika dan Norwegia.

Salah satu peneliti yang menjadi narasumber "Mud Max", Adriano Mazzini dari Universitas Oslo (Norwegia), tampak mendominasi jalannya alur penjelasan dalam film tersebut.

Adriano yang disebut-sebut banyak meneliti tentang gunung lumpur (mud volcano) menjelaskan bahwa lumpur yang menyembur di Porong, Sidoarjo, adalah lumpur dari perut Bumi dan fenomena gunung lumpur adalah hal yang sangat lazim terjadi di negara-negara dengan banyak gunung berapi.

"Lumpur keluar akibat tekanan yang sangat kuat dari permukaan bawah tanah," ujarnya.

Penjelasan yang panjang tentang spesifikasi lumpur membuat porsi penjelasan tentang sebab-sebab lumpur menyembur menjadi sangat sedikit.

Film yang diproduksi Immodicus SA dan Arizona State University School of Earth and Space Exploration itu diluncurkan pada Jumat (13/11) malam di Scottsdale, Arizona.

Peluncuran yang berlangsung di Hotel Mondrian itu dilanjutkan dengan diskusi panel beberapa ahli geologi tentang fenomena lumpur panas yang mulai menyembur di lahan eksplorasi minyak dan gas PT Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, pada 29 Mei 2006 itu.
Mud Max mengungkap berbagai fakta menyangkut kasus tersebut dari segi keilmuwan, ekonomi, kemanusiaan dan politik.

Menurut Produser Eksekutif Mud Max, Chris Fong, beberapa stasiun televisi asing telah menyatakan tertarik untuk memutar film berdurasi 47 menit itu..

“Metro TV di Indonesia juga menyatakan minatnya untuk menayangkan film ini,” katanya.

Kontroversi adalah faktor utama yang membuat Chris Fong tertarik memproduksi film soal kasus lumpur Lapindo. “Audien akan tertarik dengan kontroversi. Saya lihat isu ini ternyata lebih rumit dan unsur politisnya demikian kuat,” ujar Chris.

Permasalahan yang demikian rumit sempat membuat ia sendiri kehilangan kesabaran. “Saya benar-benar hampir menyerah karena sulit sekali mendapatkan jawaban-jawaban,” cetusnya.

Namun, film tersebut akhirnya dapat diselesaikan setelah melewati berbagai riset selama satu tahun dan wawancara dengan berbagai sumber.

Komentar dan keterangan dirangkum dari berbagai pihak, termasuk dari para korban dampak luapan lumpur, pemerintah daerah, pihak PT Lapindo Brantas, Walhi dan BP Migas
.
Di bagian akhir tayangan, Mud Max menaruh catatan tentang keputusan Mahkamah Agung pada Mei 2009, PT Lapindo Brantas dibebaskan dari tuduhan dan pemerintah akan mengambil alih tanggung jawab penanggulangan banjir lumpur di Sidoarjo dari Lapindo Brantas.

Bagian itu juga mengungkapkan kecenderungan bahwa kontroversi soal Lumpur Lapindo akan terus berlanjut, demikian pula perbedaan pendapat di kalangan pakar tentang penyebab luapan lumpur di Sidoarjo.
Mud Max melaporkan bahwa simposium tentang lumpur Lapindo yang diadakan London Geological Society dan American Association of Petroleum Geologists (AAPG) Oktober 2008, misalnya, tidak dapat membuktikan pembenaran ilmiah tentang penyebab menyemburnya lumpur.

Sebelumnya menurut catatan media, simposium yang diadakan di Cape Town, Afrika Selatan, itu diakhiri dengan pemungutan suara karena pendapat-pendapat yang disampaikan para ahli tentang penyebab lumpur Lapindo sangat bertentangan
.
Pemungutan suara yang diikuti oleh 74 ahli perminyakan dunia menunjukkan bahwa 42 ilmuwan mendukung teori bahwa pengeboran ladang Banjar Panji 1 di Sidoarjo yang dilakukan oleh Lapindo Brantas merupakan penyebab menyemburnya lumpur.

Tiga ilmuwan setuju dengan pendapat bahwa semburan lumpur pada 29 Mei 2006 itu disebabkan gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta dua hari sebelumnya.

Enam belas ilmuwan menganggap bukti-bukti yang disampaikan para pakar pembicara tidak meyakinkan; dan 13 ilmuwan lainnya mendukung pendapat bahwa luapan lumpur merupakan kombinasi dampak dari terjadinya gempa bumi serta pengeboran di ladang eksplorasi.

Menurut Chris Fong, Mud Max dengan naskah versi Bahasa Indonesia akan diluncurkan di Indonesia pada Januari 2010.


Dalam Mud Max, dimunculkan pendapat bertentangan dari sejumlah ahli tentang penyebab munculnya lumpur, apakah kejadian alam atau kesalahan manusia.
Dalam diskusi panel, Juru Bicara Immodicus SA, Avian Tumengkol, mengatakan film Mud Max tidak diarahkan untuk menentukan apakah semburan lumpur itu merupakan bencana alam atau akibat dari kesalahan manusia.

“Film ini untuk memberi pemahaman, temuan-temuan dan pandangan-pandangan dari kedua pihak. Tujuan film ini adalah untuk memberi kesempatan kepada publik menentukan pemikiran dan pemahaman mereka sendiri untuk menyimpulkan mana yang benar,” kata Avian.

Film itu diawali dengan pemandangan khas alam Indonesia. Laut, gunung-gunung, dan sawah. Diikuti penjelasan bahwa negara yang indah itu sebenarnya menyimpan potensi bencana karena berada di jalur cincin gunung api yang dikenal sebagai Ring of Fire. Gambar yang ditampilkan adalah peta dunia dengan garis kuning mengelilingi Samudera Pasifik yang menunjukkan lokasi pegunungan di beberapa negara, termasuk Indonesia.

 Sebuah penampilan musik tradisional Jawa, gamelan, ditampilkan mengawali premier film tersebut. Yang unik, para nayaga (pemain gamelan) adalah beberapa pengajar dan karyawan perguruan tinggi itu. Di tengah jeda antara penyajian gamelan dan pemutaran film, Direktur ASU Kip Hodges memberikan sambutan. “Film ini dibuat untuk menunjukkan peran yang bisa dilakukan kalangan ilmuwan terkait bencana Lusi,” kata Hodges, yang malam itu mengenakan baju bermotif batik di bagian belakangnya.

Gambaran itu langsung mengingatkan pada film dokumenter lain yang sukses yaitu Ring of Fire. Kebetulan, dalam pembuatan MUD MAX, ASU bekerja sama dengan produser film Immodicus, yang juga memproduseri film Ring of Fire.

Selanjutnya, di menit-menit awal film tersebut menampilkan rentetan bencana yang terjadi di Indonesia yang disebut-sebut berkaitan dengan posisi geologis Indonesia yang berada pada jalur Ring of Fire. Mulai meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda pada 1880-an, sampai gempa di Jogja 2006, yang hanya selisih beberapa jam sebelum terjadi semburan liar di dekat lokasi pengeboran Lapindo di Desa Jatirejo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Mei 2006.

Sederet ahli pun ditampilkan dalam bentuk wawancara untuk menjelaskan keterkaitan potensi bencana di Indonesia dengan Ring of Fire tadi. Yang paling menonjol dan sering dimunculkan adalah Adriano Mazzini, peneliti proses geologis dan fisika Universitas Oslo, Norwegia. Lelaki berdarah Italia tersebut bahkan beberapa kali ditampilkan sedang mengambil sampel atau mengadakan pengamatan pada fenomena semburan lumpur.

Tidak saja yang terjadi di Sidoarjo, namun juga di tempat lain di Indonesia. Di antaranya Bleduk Kuwu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah; Gunung Anyar, Surabaya; dan Kalanganyar, Sidoarjo. Sepertinya, Mazzini mencoba menarik benang merah antara fenomena semburan lumpur tersebut dengan yang terjadi di Porong.

Mazzini tampak seperti pemeran utama film tersebut karena lebih sering muncul. Dia juga menjadi technical advisor selama pembuatan film tersebut. Bisa dikatakan Mazzini memang berperan rangkap, sebagai aktor utama dan pengarah teknik film.

Selanjutnya, film fokus pada gempa di Jogja Mei 2006. Disajikan rentetan demi rentetan peristiwa alam yang terjadi setelah gempa tersebut, termasuk munculnya semburan liar di dekat sumur Banjar Panji I di Jatirejo, Porong. Digambarkan tujuh jam setelah gempa Jogja, terjadi hal yang tidak biasa di pengeboran Lapindo di Jatirejo. Paling menonjol adalah munculnya semburan liar sekitar 50 meter dari pengeboran.
Memang tidak secara tegas digambarkan bahwa semburan liar itu sebagai akibat gempa di Jogja. Namun, penonton yang tidak mengikuti sejak awal perkembangan semburan tersebut, cenderung membuat kesimpulan seperti itu. Apalagi, rangkaian gambar gempa Jogja dan munculnya semburan liar di pengeboran Lapindo diulang beberapa kali.

Secara keseluruhan, memang banyak pengulangan yang ditampilkan dalam film itu. Termasuk penjelasan para ahli yang mengarah pada kesimpulan bahwa semburan lumpur panas di Porong itu adalah natural disaster (bencana alam).

Berapa besar ongkos membuat film tersebut? Baik Immodicus sebagai produser maupun Arizona State University (ASU) menolak membeberkannya. Hanya, produser Chris Fong menyebut film tersebut adalah “film murah”. “Tidak sampai sepersepuluh biaya pembuatan film dokumenter Ring of Fire,” katanya setelah premier launching film MUD MAX di Mondrian Hotel Scottsdale, Arizona, Amerika Serikat, Jumat lalu (13/11).

Murahnya biaya pembuatan film tersebut, menurut Chris, karena editingnya dilakukan di Indonesia. “Andai dilakukan di sini (Amerika Serikat), wow! mahal,” kata lelaki yang suka tersenyum itu. Setelah film MUD MAX selesai, Chris menyatakan tidak memiliki target muluk. Dia memang mencoba mengikutkannya dalam beberapa festival film, termasuk di Cannes, Prancis. Namun, dia tidak menargetkan hasil tertentu.

“Dengan film ini, kami ingin menyadarkan para pelajar di Indonesia, utamanya, bahwa negeri mereka berpotensi besar terkena bencana,” papar Hilairy Hartnett PhD, peneliti bidang biogeochemistry di ASU. Menurut dia, harus lebih banyak pelajar Indonesia yang mempelajari geologi. Sebab, itu akan membantu menghadapi berbagai fenomena geologis Indonesia terkait posisinya di lingkaran gunung berapi Ring of Fire.

Menurut perempuan peneliti tersebut, banyak fenomena alam yang unpredictable, termasuk semburan lumpur panas di Sidoarjo. Dia bahkan tidak berani memprediksi berapa lama semburan berlangsung dan akan menjadi apa lokasi semburan itu. Dia hanya memaparkan hasil penelitiannya bahwa semburan tersebut lebih banyak mengandung air dibanding material padat. “Sekitar 90 persen kandungan semburan itu adalah air,” katanya kepada rombongan wartawan dari Indonesia yang berkunjung ke laboratoriumnya di ASU.




Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAH COMEN DULU...
MAKASIH TELAH MEMBERI COMEN DAN WUKTUNYA....
SALAM PERSAHABATAN.....
edy putra Jl.cik lanang62 Kauman Rt04/05 Jepara-59417

KLIK MENDENGARKAN LAGU



Photobucket

CARI ARTIKEL DISINI

Loading

COMENTATOR

CARA MEMBUKA KLIK KANAN PADA BLOG JEPARA BUMI KARTINI
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger