EDY PUTRA jepara Jl.cik lanang Nm.62 Rt.04/05Kauman Jepara jateng-59417. CALL; +6281904645456 , +6281390345437. E-mail ; edy_putra@ymail.com , edyputrajepara@gmail.com Malayani ; LAS , BODY REPAER MOBIL , MESIN , CAT , JASA FINISHING MEBEL , CALTER MOBIL , MEBEL,FURNITUR
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Tuesday, January 19, 2010

SIDANG NASRUDIN | JPU MENETAPKAN ANTASARI HUKUMAN MATI

JPU MENETAPKAN ANTASARI ,HUKUMAN MATI

JAKARTA,Selasa (pahing) 19 Januari 2010,Jaksa penuntut umum (jpu) membacakan tuntutan atas terdakwa Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan Direktur PT Rajawali Putra Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen.
Antasari Azhar terancam hukuman mati. Kabar tersebut sontak saja mengejutkan publik. Betapa tidak, banyak kalangan meragukan pria berkumis itu adalah otak dibalik pembunuhan bos PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen.

Jaksa Penuntut Umum yang dipimpin Cyrus Sinaga berpendapat, Antasari adalah tokoh utama dibalik pembunuhan Nasrudin. Selain itu, Antasari juga dinilai salah karena melakukan tindakan asusila kepada Rani Juliani di Hotel Grand Mahakam.

Pelaksanaan sidang pembacaan tuntutan terhadap terdakwa Antasari Azhar molor. Sidang yang semestinya dilaksanakan pada pukul 09.00 belum juga dihadiri majelis hakim sampai pukul 09.30, Selasa (19/1). Belum didapatkan keterangan mengenai keterlambatan ini. Namun di ruang sidang, majelis hakim baru tiba pukul 09.40.

Diterangkan oleh Jaksa Penuntut Umum, Cyrus Sinaga, dokumen tuntutan yang akan dibacakan hari ini total sebanyak 600 lembar. 170 diantaranua adalah tuntutan dan fakta pendukung, sementara sisanya adalah lampiran keterangan saksi dan fakta pendukung.

Mengingat tebalnya dokumen, pengacara terdakwa Antasari Azhar Muhammad Assegaf meminta jaksa hanya membaca inti dari fakta pendukung, keterangan saksi, dan tuntutannya saja.
"Saya sudah mengajukan hal ini sama hakim ketua, dan kita lihat saja nanti," ujarnya pada wartawan di PN Jakarta Selatan.
Sementara, terdakwa Antasari Azhar masih teguh tak mengakui keterlibatannya dengan pembunuhan direktur PT Rajawali Putra Banjaran, Nasruddin Zulkarnain.

Antasari diduga sebagai otak pembunuhan. Dalam dakwaannya, jaksa menyebut konflik antara Nasrudin Zulkarnaen dan Antasari melibatkan Rani Juliani.

Nasrudin ditembak pada 14 Maret 2009. Dia meninggal 22 jam kemudian akibat dua peluru bersarang di kepala. Terbunuhnya direktur PT Putra Rajawali Banjaran ini menyeret sembilan terdakwa.

Lima di antaranya berperan sebagai eksekutor. Saat ini kelimanya sudah dituntut penjara seumur hidup oleh Pengadilan Negeri Tangerang.

Kasus pembunuhan ini juga menyeret empat nama lainnya yakni mantan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Williardi Wizar, Bos Koran Merdeka Sigit Haryo Wibisono, dan Jerry Hermawan.


ADEGAKAN MESRA DI HOTEL GRAND MAHAKAM

Menurut JPU, Cirrus Sinaga, tim penasehat hukum telah berusaha mengaburkan perkara, dengan mengatakan kasus Antasari adalah rekayasa para penegak hukum.

Seperti dalam dakwaan, Cirrus kembali membacakan adegan di kamar 803 Hotel Grand Mahakam, antara Antasari dengan Rani Juliani, istri ketiga Nasrudin.

"Banyak orang seolah tak percaya dan selalu mengatakan, ah masa iya, Antasari yang ketua KPK mau melakukan perbuatan tak senonoh pada seorang Rani yang caddy golf," kata Cirrus Sinaga.

"Yang lebih dari Rani pun Pak Antasari mampu," lanjut dia.

Namun, tambah Cirrus, jaksa menilai apa yang dilakukan Antasari lumrah dan logis. "Di balik nama besar dan jabatan strategis, terdakwa tetap manusia biasa, seorang laki-laki normal," kata Cirrus.

Meski Antasari selalu membantah, jaksa berdalil fakta berkata lain. Jaksa kembali menggambarkan adegan antara Antasari-Rani di kamar 803 Hotel Grand Mahakam.

"Terdakwa mencium bibir Rani, membuka kancing baju, menurutkan bra, hingga tersingkap," kata Cirrus.

Sebelumnya, adegan yang sama juga terkuak dalam dakwaan jaksa. Tindakan jaksa menggambarkan adegan mesra Antasari-Rani menuai kontroversi. Jaksa dinilai vulgar.

SEPULUH (10) TUNTUTAN JPU YANG MEMBERATKAN ANTASARI

Jaksa penuntut umum menilai ada 10 hal yang memberatkan hukuman mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Antasari Azhar selama menjalani persidangan kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran.

"Pertama terdakwa sangat mempersulit persidangan," ujar jaksa penuntut umum, Cirus Sinaga di depan majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (19/1).

Selanjutnya Antasari juga dinilai membuat gaduh dalam setiap persidangan. Ketiga, perbuatan Antasari tersebut dilakukan bersama-sama dan teroganisir untuk melakukan pembunuhan berencana. "Keempat terdakwa berusaha menggiring perbuatannya sebagai rekayasa atau konspirasi untuk memperngaruhi publik agar citra penegak hukum menjadi rusak," kata Cirus.

Kelima perbuatan tersebut dilakukan bersama-sama dengan oknum perwira menengah Polri dan pengusaha bidang pers yang seharusnya melindungi masyarakat. "Keenam perbuatan terdakwa telah menurunkan citra dan mempermalukan penegak hukum, ketujuh terdakwa tidak memberikan contoh yang baik pada penegak hukum," ujar Cirus.

Status Nasrudin yang merupakan salah satu pejabat Badan Usaha Milik Negara juga menjadi hal yang memberatkan hukuman Antasari. Selain itu Antasari juga didakwa telah menghilangkan kebahagiaan keluarga korban, serta telah menyebabkan penderitaan lahir dan batin pada istri, anak, dan keluarga Nasrudin.

Mengenai hal-hal yang meringankan, jaksa penuntut umum menyatakan tidak ada. "Dalam persidangan tidak ditemukan hal-hal yang meringankan terhadap diri terdakwa," ujar Cirus.

Antasari dituntut pidanan mati karena dianggap telah terbukti melakukan penganjuran pembunuhan terhadap Nasrudin. Antasari dituntut melanggar pasal 55 ayat 1 ke 1 juncto pasal 55 ayat 1 ke dua juncto pasal 340 KUHP.

Antasari Azhar diduga melakukan penganjuran pembunuhan terhadap Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen, bersama Komisaris Besar Wiliardi Wizar dan Sigid Haryo Wibisono.

KELUARGA ANTASARI SOCK

Saya sampai syok mendengarnya. Oh sangat kejam. Jauh dari perkiraan,” ujar Asmulyati, adik mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini, usai sidang tuntutan terhadap Antasari di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (19/1/2010).

Asmulyati tetap berkeyakinan bahwa kakak kandungnya tidak bersalah dan sama sekali tidak terlibat dalam pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen.

“Karena memang sudah jelas, saksi-saksi di dalam persidangan mengatakan tidak ada keterlibatan Pak Antasari. Saya yakin karena saya mengikuti terus (persidangan) tidak pernah absen,” jelasnya.

Alhasil, dia hanya berharap kebenanaran terbuka lebar dan kakaknya bisa bebas dari segala tuntutan. “Semoga dalam persidangan pembelaan nanti sebanding. Kita yakin Pak Antasari tidak bersalah,” tandasnya.

TUNTUTAN 'JPU' TERLALU BERLEBIHAN

Kuasa hukum Antasari Azhar, Juniver Girsang, mengaku shock dengan tuntutan hukuman mati jaksa penuntut hukum terhadap Antasari. "Kami shock. Semula kami sangka akan ada tuntutan berat, 15 atau 20 tahun penjara, tapi ternyata tuntutannya hukuman mati," kata Juniver usai persidangan kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (19/1).

Dalam persidangan tersebut jaksa penuntut umum yang dipimpin oleh Cirus Sinaga menuntut hukuman pidana mati terhadap Antasari. Antasari dinilai telah terbukti melakukan penganjuran pembunuhan terhadap Nasrudin. "Tuntutan mati oleh jaksa penuntut umum itu membabibuta," kata Juniver.

Juniver bersikukuh bahwa tuntutan jaksa penuntut umum tidak sesuai dengan fakta persidangan. "Sejumlah saksi dalam persidangan, seperti Wiliardi Wizar, telah mengakui bahwa Antasari tidak terlibat," kata Juniver.
Dalam Berita Acara Pemeriksaan awalnya, Wiliardi memang sempat mengatakan bahwa Antasari yang meminta agar Nasrudin dileyapkan. Namun dalam persidangan, Wiliardi menyatakan mencabut BAP dia dan mengatakan bahwa dia dalam tekanan pada saat pemeriksaan dan pembuatan BAP. "Kalau kita cermati, tuntutan itu hanya memindahkan BAP pada tuntutan. Kalau seperti ini, untuk apa ada sidang? Langsung aja dituntut mati," ujar Juniver.

Dalam berkas tuntutan setebal sekitar 600 halaman tersebut, jaksa penuntut umum menuntut hukuman mati terhadap Antasari karena dinilai telah terbukti melakukan penganjuran pembunuhan terhadap Nasrudin.

Nasib serupa juga dialami oleh Mantan Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Wiliardi Wizar dan pengusaha Sigid Haryo Wibisono. Dalam sidang terpisah di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, jaksa penuntut umum menuntut mereka berdua hukuman mati.

Antasari Azhar bersama Wiliardi Wizar dan Sigid Haryo Wibisono didakwa melakukan penganjuran pembunuhan terhadap Nasrudin. Nasrudin tertembak mati usai bermain golf di Padang Golf Moderland, Cikokol, Tanggerang, 14 Maret 2009.

PRESTASI  ANTASARI

Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini pun berkaca kaca matanya usai hakim menutup persidangan. Dia menuding, jaksa sangat berambisi ingin menghukumnya. Selain itu, aroma balas dendam para jaksa seakan tercium. Apakah tuntutan hukuman mati ini terdapat motif balas dendam?

Perlu diketahui bersama, selama menjabat Ketua KPK, Antasari boleh diacungi jempol. Betapa tidak, dia berhasil menangkap sejumlah anggota DPR, pejabat negara, kepala daerah, hingga besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Aulia Pohan.

Salah satu yang menjadi prestasi Antasari adalah menangkap Jaksa Urip Tri Gunawan yang kepergok menerima suap dari “ratu lobby” Artalyta Suryani. Penangkapan itu seakan membuka borok kejaksaan yang kerap “bermain” dalam berbagai kasus. Jaksa Agung Hendarman Supanji pun tak kuasa menitikkan air mata kala itu karena tak kuat menahan malu.

Entalah, apakah jeratan Antasari tersebut ada kaitannya dengan keberanian dia menangkap sejumlah pejabat atau tidak. Yang pasti, jika Antasari adalah benar-benar otak pelaku pembunuhan Nasrudin, dia layak mendapat hukuman setimpal. Mengingat, ini adalah negara yang menjunjung tinggi supremasi hukum.

Namun, jaksa juga seharusnya tidak hanya menyatakan hal-hal yang memberatkan Antasari, tetapi juga mempertimbangkan hal-hal yang bisa meringankan. Misalnya, Antasari pernah mengabdi kepada negara dalam memberantas korupsi, Antasari adalah kepala keluarga, dan Antasari bersikap kooperatif dalam menjalani pemeriksaan hingga persidangan.

Kendati demikian, tuntutan jaksa bukanlah vonis dari majelis hakim. Antasari masih bisa membela diri melalui agenda pembacaan pledoi sebelum mendengarkan putusan. Semoga, lembaga pengadilan yang memproses kasus Antasari dapat mengeluarkan putusan yang memang seharusnya diterima Antasari tanpa motif apapun.

Setiap mereka yang terjerat hukum harus menjalani proses di pengadilan, tetapi setiap orang juga berhak mendapatkan keadilan. Meminjam kata-kata dari tokoh hukum Indonesia Almarhum Baharuddin Lopa, Kendati kapal karam, tegakkan hukum dan keadilan…

SMOGA KEPUTUSAN HAKIM DAPAT DITRIMA SEMUA PIHAK ... Salam Blogger

TUTORIAL BLOG ,MEBEL antik , GAME online , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC , MY FACEBOOK

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAH COMEN DULU...
MAKASIH TELAH MEMBERI COMEN DAN WUKTUNYA....
SALAM PERSAHABATAN.....
edy putra Jl.cik lanang62 Kauman Rt04/05 Jepara-59417

KLIK MENDENGARKAN LAGU



Photobucket

CARI ARTIKEL DISINI

Loading

COMENTATOR

CARA MEMBUKA KLIK KANAN PADA BLOG JEPARA BUMI KARTINI
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger