EDY PUTRA jepara Jl.cik lanang Nm.62 Rt.04/05Kauman Jepara jateng-59417. CALL; +6281904645456 , +6281390345437. E-mail ; edy_putra@ymail.com , edyputrajepara@gmail.com Malayani ; LAS , BODY REPAER MOBIL , MESIN , CAT , JASA FINISHING MEBEL , CALTER MOBIL , MEBEL,FURNITUR
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Saturday, January 9, 2010

PERDAGANGAN BEBAS ,FTA ASEAN CHINA


DAMPAK DAN KEKAWATIRAN 
Mulai 1 Januari 2010 telah berlaku perdagangan bebas Free Trade Agreement (FTA) ASEAN-China. Sehingga produk China akan lebih mudah masuk, apalagi 90% produk asal negara itu akan dikenai tarif nol persen.

Aktivis Lembaga Indonesia Peduli (LIP) Edy Burmansyah mengatakan, Indonesia sebagai salah satu negara anggota ASEAN dengan produk paling besar tentu akan menjadi sasaran utama bagi produk-produk China sehingga dikhawatirkan tidak akan memberikan banyak keuntungan bagi Indonesia.
"Sebelum ACFTA diberlakukan saja, pasar dalam negeri sudah dibanjiri oleh produk-produk China," ungkapnya, di Jakarta, Jumat (8/1/2010).

Sejumlah kekhawatiran sudah disampaikan para produsen tekstil dan produk tekstil yang kemungkinan besar tidak mampu bersaing dengan produk China yang harganya murah.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno sudah mewanti-wanti bahkan menunjukkan sepanjang 2008-2009, sebanyak 426 industri tekstil dan produk tekstil (TPT) gulung tikar sehingga 78.158 tenaga kerja terpaksa diberhentikan.
Untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk, API belum punya strategi yang efektif. Padahal, ungkap API, barang selundupan dari China sejak lama sudah merajalela. Produk China bakal terus mendominasi sehingga produk lokal tertinggal. Bahkan di pusat perdagangan Tanah Abang saja, 80% dikuasai tekstil dan produk tekstil asal China.

Khawatir akan dampak yang ditimbulkan pemberlakuan perdagangan bebas dengan Cina, Komisi VI DPR segera menggagas pengajuan hak angket. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan, pasalnya mainan anak-anak dan produk tekstil yang beredar di pasar lokal semuanya buatan Cina dan dikenal murah.
Berdasarkan data Asosiasi Pertekstilan Indonesia, selama tahun 2008 terdapat 155 perusahaan garmen tutup dan tahun 2009 sebanyak 271 perusahaan tutup, karena kalah bersaing dengan produk diimpor dari negeri tirai bambu itu.
Kini, produk-produk tersebut bebas masuk dengan bea nol persen. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika tidak ada langkah proteksi. Mungkin akan banyak perusahaan-perusahaan lokal yang akan gulung tikar dan mengakibatkan banyak pekerja yang diberhentikan.

Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China cepat atau lambat akan menghancurkan sendi-sendi industri di dalam negeri. Perjanjian ASEAN-China itu mulai diberlakukan per 1 Januari 2010.
Lambatnya langkah pemerintah untuk penguatan industri dalam negeri terkait datangnya Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China itu dikhawatirkan dapat berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) sekitar 7,5 juta pekerja.
Jumlah itu mencapai 25% dari total jumlah pekerja sektor formal saat ini sebesar 29 juta orang. Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto, berdasarkan perhitungan Apindo, saat ini dari total produk yang beredar di pasar nasional 50% dikuasai produk-produk impor. Dari jumlah itu, sekitar 40% datang dari China.
"Jika nanti pemerintah begitu saja melepas indutri dalam negeri untuk bersaing head to head dengan produk China, dipastikan sebaran produk murah China di pasar domestik dapat melonjak hingga 70%," ujarnya.
Tanpa adanya keberpihakan dari pemerintah seperti dengan menawarkan beragam insentif bagi produsen dalam negeri dan penguatan permintaan domestik, hal itu dapat mempurukkan industri dalam negeri. "Dipastikan banyak pengusaha yang terpaksa merumahkan para tenaga kerjanya guna menekan biaya produksi agar dapat menahan laju produk-produk China," ujarnya.

Namun, menurut Menteri Perdagangan Mari Pangestu, pelaksanaan pasar bebas akan menguntungkan ekspor dan investasi di Indonesia.
"Kita jangan hanya melihat bilateral trade balance-nya. Yang terjadi adalah kita mengimpor bahan baku dari Cina, profil impor kita dari Cina itu banyak bahan baku. Diolah di sini untuk pasar dalam negeri dan untuk ekspor, dan ekspornya belum tentu ke Cina, melayani juga kawasan ASEAN," jelas Mari Pangestu.

Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah harus menghambat desakan produk impor, semisal mengetatkan pengawasan pemberlakuan instrumen nontarif. Selain itu, pemerintah juga harus berpihak penuh pada penguatan kapasitas industri dalam negeri.

"Dengan perkuatan dokumen asal, akan jelas barang yang masuk (impor) buatan mana," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Distribusi, Logistik, dan Perdagangan Benny Soetrisno di sela-sela rapat terbuka dengan asosiasi pengusaha terkait FTA ASEAN-China di Jakarta, Rabu kemarin, 29 Juli 2009.

Dengan demikian, dia menambahkan, pengguna barang impor bisa dengan jelas mengetahui berasal dari mana bahan baku yang digunakan oleh China. "Jadi sistemnya seperti Tingkat Kandungan Dalam Negeri di Indonesia," ujar Benny.

Penguatan dokumen asal seperti di tekstil dan produk tekstil antara Indonesia dengan Jepang. "Yaitu dengan rules of origin melalui dua langkah proses," katanya. Sama halnya dengan regional value content (RVC) di ASEAN yang sebesar 40 persen.

Tak hanya itu, pengusaha juga meminta pemerintah lebih mengoptimalkan SNI untuk produk impor. "Tanpa FTA, tekstil China sudah membanjiri kita, apalagi dengan FTA maka akan semakin banyak lagi," ujarnya.

PERDAGANGAN BEBAS

PERDAGANGAN bebas merupakan slogan ekonomi era globalisasi. Slogan ini sangat diperjuangkan oleh negara-negara jagoan ekspor yang merasa komoditas ekspor mereka terhalang oleh pagar-pagar yang melindungi pasar dalam negeri negara-negara importir.

Bagi konsumen,sebenarnya perdagangan bebas memiliki manfaat jangka pendek yang nyata, yakni potensial menurunkan harga komoditas kebutuhan atau sekadar keinginan konsumen. Namun dalam skala jangka lebih panjang dan lingkup lebih luas ke arah kepentingan nasional, perdagangan bebas merupakan ancaman marabahaya.

Perdagangan bebas potensial menghancurkan industri dalam negeri yang tidak mampu bersaing melawan harga produk luar negeri. Pada hakikatnya apa yang dieluelukan sebagai perdagangan bebas sebenarnya sekadar kedok bentuk imperialisme dan kolonialisme ekonomi. Ini mengambil alih peran imperialisme dan kolonialisme militer yang kini sudah kedaluwarsa lantaran dianggap melanggar hak asasi manusia maupun hak asasi negara dan bangsa.

Kini para penjajah (yang beradab) tidak menjajah negara dan bangsa lain dengan todongan bedil atau ledakan bom.Mereka menjajah melalui jalur yang terkesan lebih beradab, tetapi hakikatnya sama. Mereka menjajah negara-negara yang secara ekonomi memang lebih lemah melalui jalur ekonomi berkedok slogan perdagangan bebas. Perdagangan bebas sama saja dengan pertarungan bebas antarpara petinju yang beda kelas dipersatukan menjadi satu kelas.

Pertarungan ini menggunakan kaidah peraturan yang sama dengan kedok istilah bebas bagi petinju kelas berat di atas 100 kg untuk menghajar petinju kelas super-layang yang beratnya di bawah 50 kg di atas ring. Peraturan dan wasitnya sama. Dengan mengenakan kedok perdagangan bebas, Republik Rakyat China memaksakan kesepakatan perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) dengan negara-negara ASEAN yang ditandatangani bersama pada 2002 dan baru mulai dilaksanakan 1 Januari 2010.

Pada umumnya konsumen menyambut baik era FTA bagi China dan ASEAN. Sebaliknya, para usahawan dan industri yang menyadari ancaman marabahaya perdagangan bebas sebagai kedok imperialisme dan kolonialisme baru melalui jalur perdagangan langsung berontak. Mereka mencoba melawan perjanjian yang telanjur disepakati antarpemerintah itu! Pada 2008, China sudah menjadi mitra dagang ASEAN terbesar setelah Jepang dan Uni Eropa dengan volume perdagangan USD 230 miliar.

Tentu tidak perlu diragukan bahwa lebih besar ekspor dari China ke ASEAN ketimbang impor China dari ASEAN. Sebenarnya sebelum 1 Januari 2010, berbagai asosiasi industri Indonesia yang benar-benar nyata merasa terancam seperti industri baja dan tekstil sudah gembargembor menentang persekongkolan FTA antara Cina dengan ASEAN yang beranggotakan Indonesia.

Indonesia yang semula mengalami surplus dalam perdagangan dengan China ternyata pada 2008 sudah mengalami defisit perdagangan senilai USD3,6 miliar. Adapun angka defisit pada 2009 belum keluar dan pada 2010 dengan mulai berlakunya FTA dapat diduga bahwa surplus bagi China akan makin membengkak. Tidak kurang dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Indonesia sudah meratapi minimal Rp15 triliun akan menguap dari pungutan Bea dan Cukai terhadap produk China yang mulai tiada sejak 1 Januari 2010 akibat FTA! Asosiasi industri baja sudah sibuk memamerkan fakta bahwa di masa masih dibebani pajak impor 5% saja ekspor baja China ke Indonesia sudah melonjak hampir 300% dari sekadar 500.000 ton per tahun menjadi hampir 1,3 juta ton per tahun pada 2008.

Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi apabila beban pajak impor dihapus sama sekali. Apa pun alasannya, pemerintah semoga tidak begitu saja mengabaikan kekhawatiran kaum usahawan dan industriawan (kecuali kaum importir atau para agen produk China) Indonesia. Semoga keluhan dan ratapan mereka yang merasa terancam jangan dianggap sekadar rengekan manja belaka, sebab ancaman imperialisme dan kolonialisme gaya baru lewat jalur perdagangan bukan sekadar halusinasi.

Memang tidak keliru pernyataan para ilmuwan sosio-politik-kultural dunia bahwa di era global justru gelora semangat nasionalisme harus lebih bangkit menggebu demi mempertahankan bukan sekadar jati diri, tetapi bahkan eksistensi sebuah bangsa dan negara di tengah kecamuk gelombang globalisasi yang melanda planet bumi.

Mereka yang ikhlas tunduk dan patuh pada kesepakatankesepakatan ekonomi yang didikte para negara adikuasa ekonomi berarti juga ikhlas menyerahkan kedaulatan ekonomi negara dan bangsanya kepada kaum penjajah ekonomi berkedok apa yang disebut perdagangan bebas.

Tidak ada salahnya negaranegara yang relatif lemah ekonomi belajar jurus-jurus akal muslihat proteksionisme negaranegara adikuasa ekonomi dengan kreatif mencipta aneka regulasi nontarif demi melindungi pasar dalam negeri mereka dari ancaman produk luar negeri! Hanya bangsa yang sudah tidak cinta Tanah Air sendiri yang tidak secara terang-terangan maupun gelap-gelapan membela dan melindungi kepentingan Tanah Air tercinta masing-masing.(*)(seputar-indonesia.com)

CINTAILAH PRODUK DALAM NEGRI KITA........ Salam blogger

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAH COMEN DULU...
MAKASIH TELAH MEMBERI COMEN DAN WUKTUNYA....
SALAM PERSAHABATAN.....
edy putra Jl.cik lanang62 Kauman Rt04/05 Jepara-59417

KLIK MENDENGARKAN LAGU



Photobucket

CARI ARTIKEL DISINI

Loading

COMENTATOR

CARA MEMBUKA KLIK KANAN PADA BLOG JEPARA BUMI KARTINI
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger