EDY PUTRA jepara Jl.cik lanang Nm.62 Rt.04/05Kauman Jepara jateng-59417. CALL; +6281904645456 , +6281390345437. E-mail ; edy_putra@ymail.com , edyputrajepara@gmail.com Malayani ; LAS , BODY REPAER MOBIL , MESIN , CAT , JASA FINISHING MEBEL , CALTER MOBIL , MEBEL,FURNITUR
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Tuesday, January 19, 2010

WILLIARDI WIZARD DIHUKUM MATI | TUNTUTAN JPU


JAKARTA,Jaksa Penuntut Umum Pengadilan Negeri Jakarta Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (19/1/2010).  Jaksa menilai mantan Kepala Kepolisian Resor Jakarta SelatanWilliardi Wizard, bersalah sesuai pasal 55 (1) ke-1, juntho pasal 55 (1) ke-2, dan juntho pasal 340 KUHP.

""Menuntut supaya majelis hakim memutuskan terdakwa Williardi Wizard bersalah telah melakukan tindak pidana secara sendiri-sendiri atau bersama-sama membujuk atau memberikan janji atau menyalahgunakan kekuasaannya kepada Eduardus (Eduardus Noe Ndopo alias Edo) untuk melakukan pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnain," kata Iwan setiawan,jpu

Menurut JPU, hal yang memberatkan terdakwa adalah berbelit-belit selama persidangan serta latar belakang terdakwa merupakan seorang penegak hukum. Sedangkan hal yang meringankan terdakwa, menurut JPU, tidak ada.

Jaksa mengatakan Williardi menyerahkan uang Rp 500 juta kepada Edo sebagai biaya operasional. "Setelah Williardi Wizard membujuk Edo dan memberi foto Nasrudin dan memberi uang Rp 500 juta, itu merupakan niat yang disepakati terdakwa Sigit Haryo Wibisono, Antasari Azhar, kemudian memerintahkan Edo untuk membunuh Nasrudin," ujar Iwan.
Nasrudin ditembak pada 14 Maret 2009. Dia meninggal 22 jam kemudian akibat dua peluru yang bersarang di kepalanya. Terbunuhnya direktur PT Putra Rajawali Banjaran ini menyeret sembilan terdakwa.

Lima di antaranya berperan sebagai eksekutor. Saat ini lima terdakwa sudah dituntut penjara seumur hidup oleh jaksa di Pengadilan Negeri Tangerang.

Kasus pembunuhan ini juga menyeret empat nama lainnya yakni mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar, mantan Kapolres Jakarta Selatan Komisaris Besar Williardi Wizar, Bos Koran Merdeka Sigit Haryo Wibisono, dan Jerry Hermawan Lomm.

MABES  TAWARKAN BANTUAN HUKUM

Mabes Polri bersedia memberikan bantuan hukum kepada Kombes Williardi Wizard setelah mantan Kapolres Jakarta Selatan itu dijatuhi tuntutan hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen.

Kesanggupan Mabes Polri itu disampaikan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Komjen Ito Sumardi kepada wartawan di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (19/1).

Namun hingga kini, diakui Ito, baik pihak keluarga maupun Williardi secara pribadi belum mengajukan permohonan resmi kepada Mabes Polri.

“Sebagai anggota Polri dia mendapatkan hak untuk pembelaan hukum. Prosedurnya melalui Divisi Pembinaan Hukum (Divbinkum). Kalau mau silakan saja mengajukan permintaan resmi ke Mabes Polri, nanti akan dibantu,” katanya.

Pihak Williardi akan mengajukan pembelaan atau pledoi pekan depan, Kamis (28/1). Williardi Wizard terbukti bersalah mengatur tim untuk membunuh Nasruddin Zulkarnaen.


DIPAKSA MENGAKUI

Istri Wiliardi Wizard, Novarina, mengatakan, ada perubahan dalam berita acara pemeriksaan suaminya terkait pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Perubahan itu berupa keterangan mengenai perintah membunuh Nasrudin.
Nova menyampaikan hal itu dalam sidang kasus pembunuhan berencana Nasrudin dengan terdakwa mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (29/12). Ia dihadirkan sebagai saksi oleh penasihat hukum Antasari. Wiliardi kini juga menjalani persidangan di PN Jakarta Selatan sebagai terdakwa dalam kasus yang sama.

Menjawab pertanyaan penasihat hukum Antasari, antara lain Ari Yusuf Amir, Maqdir Ismail, dan Hotma Sitompoel, Nova mengatakan, pada berita acara pemeriksaan (BAP) tertanggal 29 April 2009, suaminya menjelaskan, ia kenal Antasari dan Sigit Haryo Wibisono. Namun, pada BAP tertanggal 30 April 2009 ada keterangan soal perintah untuk membunuh.

Nova mengatakan, pada 30 April 2009 pagi ia ke rumah tahanan Mabes Polri untuk menjenguk Wiliardi yang ditahan. Namun, ia dilarang masuk sebab Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri bertemu Wiliardi. Saat itu, Wakil Kepala Bareskrim Polri dijabat Inspektur Jenderal Hadiatmoko.
Sepeninggal Hadiatmoko, Wiliardi memberikan penjelasan kepada Nova. ”Kata suami saya, ada perintah dari atasan untuk mengakui adanya perintah Antasari membunuh Nasrudin. Padahal, kata suami saya, dia tidak melakukan itu,” katanya.

Nova juga mengaku, ia pernah berada dalam ruangan pemeriksaan Wiliardi. Saat itu ada Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Mohammad Iriawan yang juga teman seangkatan Wiliardi. ”Saya tanya, ’Apa ini’? Lalu Direktur bilang, ’Yang sabar, targetnya Antasari. Pokoknya nanti kita bantu’,” ujarnya.
Lima hari sebelum berkas perkara dinyatakan lengkap, Nova ditelepon Wiliardi yang memintanya datang ke Mabes Polri karena ada berita gembira. Nova bersama Wiliardi dan Iriawan ke Mabes Polri, bertemu Kepala Bareskrim Polri yang saat itu dijabat Komisaris Jenderal Susno Duadji. Susno mengatakan, Wiliardi tidak akan dipecat.

”Saya yang penting kalau Antasari bebas, kamu juga bebas. Saya tidak mau Antasari bebas, kamu malah dihukum berat,” kata Nova mengutip kata-kata Susno kepada Wiliardi ketika itu.
”Saat itu, suami saya mengatakan, ’Demi Allah, tidak pernah mendapat perintah dari Antasari’,” ujar Nova.

Tim jaksa penuntut umum yang diketuai Cirus Sinaga menanyakan apakah Nova kenal dengan Jerry Hermawan Lo. Jerry juga didakwa terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap Nasrudin.
”Saya kenal sejak tahun 1998, dikenalkan suami saya. Kami kadang saling mengunjungi ke rumah,” ujar Nova.

Penasihat hukum Antasari juga menghadirkan Roy Haryanto, ahli senjata dan amunisi. Roy adalah atlet tembak yang menjadi pemasok untuk tim menembak TNI Angkatan Darat.
Penasihat hukum meminta jaksa menunjukkan kembali barang bukti. Penasihat hukum dan jaksa sempat saling bantah soal barang bukti. Penasihat hukum menilai, serpihan peluru yang dihadirkan saat itu berbeda dengan yang ditunjukkan pada sidang sebelumnya.
Ketua Majelis Hakim Herri Swantoro sampai mengetukkan palunya, meminta penasihat hukum dan jaksa tenang.

Roy menilai, penembakan terhadap Nasrudin tak mungkin dilakukan orang yang amatir. Penembakan dilakukan orang yang melaju di sepeda motor

KEADILAN TETAP DITEGAKKAN ,,,,,,, Salam Blogger 

TUTORIAL BLOG ,MEBEL antik , GAME online , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC , MY FACEBOOK

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAH COMEN DULU...
MAKASIH TELAH MEMBERI COMEN DAN WUKTUNYA....
SALAM PERSAHABATAN.....
edy putra Jl.cik lanang62 Kauman Rt04/05 Jepara-59417

KLIK MENDENGARKAN LAGU



Photobucket

CARI ARTIKEL DISINI

Loading

COMENTATOR

CARA MEMBUKA KLIK KANAN PADA BLOG JEPARA BUMI KARTINI
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger