EDY PUTRA jepara Jl.cik lanang Nm.62 Rt.04/05Kauman Jepara jateng-59417. CALL; +6281904645456 , +6281390345437. E-mail ; edy_putra@ymail.com , edyputrajepara@gmail.com Malayani ; LAS , BODY REPAER MOBIL , MESIN , CAT , JASA FINISHING MEBEL , CALTER MOBIL , MEBEL,FURNITUR
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Friday, January 1, 2010

ABDURRAHMAN WAHID , GUS DUR

BIOGRAFI DAN KARIR


KH. Abdurrahman Wahid adalah Presiden Republik Indonesia ke-4 setelah Presiden Soekarno, Presiden Soeharto dan Presiden B.J.Habibi, Gus Dur Bukan Mantan Presiden, tetapi Presiden Republik Indonesia ke-4.

Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940, dan meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009 pada umur 69 tahun).
Ia adalah tokoh kiai muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. Ia menggantikan Presiden BJ Habibie setelah dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) hasil Pemilu 1999.
Penyelenggaraan pemerintahannya dibantu Kabinet Persatuan Nasional. Masa kepresidenan Abdurrahman Wahid dimulai 20 Oktober 1999 dan berakhir setelah diturunkan melalui Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001.
Tepat 23 Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri setelah mandatnya dicabut oleh MPR.
Abdurrahman Wahid adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) PB Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Gus Dur lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah.
Terdapat kepercayaan bahwa ia lahir tanggal 4 Agustus, namun kalender yang digunakan untuk menandai hari kelahirannya adalah kalender Islam yang berarti ia lahir pada 4 Sya'ban, sama dengan 7 September 1940.
Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" berarti "Sang Penakluk". Kata "Addakhil" tidak cukup dikenal, dan diganti nama "Wahid", dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur.
"Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berarti "abang" atau "mas".

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Wahid lahir dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sedangkan kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan.
Ayah Gus Dur, yaitu KH Wahid Hasyim, terlibat dalam gerakan nasionalis dan menjadi Menteri Agama pada tahun 1949. Ibunya, Ny Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang.
Gus Dur secara terbuka pernah menyatakan bahwa ia memiliki darah Tionghoa. Ia mengaku keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.
Tan A Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan anak dari Putri Campa, putri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V.
Tan Kim Han sendiri kemudian berdasarkan penelitian seorang peneliti Perancis, Louis-Charles Damais, diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang makamnya ditemukan di daerah Trowulan, Jatim.
Pada tahun 1944, Wahid pindah dari Jombang ke Jakarta, tempat ayahnya terpilih menjadi Ketua I Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah organisasi yang berdiri dengan dukungan tentara Jepang yang saat itu menduduki Indonesia.

Setelah deklarasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda.
Pada akhir tahun 1949, Wahid pindah ke Jakarta, dan ayahnya ditunjuk menjadi Menteri Agama. Abdurrahman Wahid belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Wahid juga diajarkan membaca buku non-Muslim, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya.

Gus Dur terus tinggal di Jakarta dengan keluarganya meskipun ayahnya sudah tidak menjadi menteri agama pada tahun 1952. Pada April 1953, ayah Wahid meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.
Pendidikan Wahid berlanjut dan pada tahun 1954, ia masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Pada tahun itu, ia tidak naik kelas. Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya. Pada tahun 1957, setelah lulus dari SMP, Wahid pindah ke Magelang untuk memulai Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun). Pada tahun 1959, Wahid pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, sementara melanjutkan pendidikannya sendiri, Abdurrahman Wahid juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai guru dan nantinya sebagai kepala sekolah madrasah. Gus Dur juga dipekerjakan sebagai jurnalis majalah seperti Horizon dan Majalah Budaya Jaya.


Didikan Luar Negeri
Pada tahun 1963, Wahid menerima beasiswa dari Kementerian Agama RI untuk belajar di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir.
Ia pergi ke Mesir pada November 1963.
Meskipun ia mahir berbahasa Arab, Gus Dur diberitahu oleh universitas bahwa ia harus mengambil kelas remedial sebelum belajar Islam dan bahasa Arab. Karena tidak mampu memberikan bukti bahwa ia memiliki kemampuan bahasa Arab, Wahid terpaksa mengambil kelas remedial.
Abdurrahman Wahid mulai menikmati hidup di Mesir pada tahun 1964, menonton film Eropa dan Amerika, dan juga menonton sepak bola. Wahid juga terlibat dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dan menjadi jurnalis majalah asosiasi tersebut.
Pada akhir tahun, ia berhasil lulus kelas remedial Arab-nya. Ketika ia memulai belajarnya dalam Islam dan bahasa Arab tahun 1965, Gus Dur kecewa. Ia telah mempelajari banyak materi yang diberikan dan menolak metode belajar yang digunakan universitas.

Di Mesir, Wahid dipekerjakan di Kedutaan Besar Indonesia. Pada saat ia bekerja, peristiwa Gerakan 30 September 1965 terjadi. Mayor Jenderal Soeharto menangani situasi di Jakarta dan upaya pemberantasan komunis dilakukan.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kedutaan Besar Indonesia di Mesir diperintahkan untuk melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka. Perintah ini diberikan kepada Wahid, yang ditugaskan menulis laporan
Namun ternyata Wahid bisa dikatakan mengalami kegagalan di Mesir. Ia tidak setuju dengan metode pendidikan serta pekerjaannya setelah G 30 S/PKI yang sangat mengganggu dirinya.
Pada tahun 1966 ia diberitahu bahwa ia harus mengulang belajar. Pendidikan prasarjana Gus Dur diselamatkan melalui beasiswa di Universitas Baghdad. Maka Wahid pun kemudian pindah ke Irak dan menikmati lingkungan barunya.

Meskipun ia lalai pada awalnya, Wahid dengan cepat belajar. Ia juga meneruskan keterlibatannya dalam Asosiasi Pelajar Indonesia dan juga menulis majalah asosiasi tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970, Gus Dur pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya. Wahid ingin belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Universitas Baghdad kurang diakui. Dari Belanda, Wahid pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali ke Indonesia tahun 1971.


Karir Awal
Gus Dur kembali ke Jakarta dan mengharapkan ia akan pergi ke luar negeri lagi untuk belajar di Universitas McGill di Kanada. Hal itu membuat dirinya sibuk dengan bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.
LP3ES kemudian mendirikan majalah yang disebut Prisma, dan Wahid menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut. Selain bekerja sebagai kontributor LP3ES, Wahid juga berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa.

Pada saat itu, pesantren berusaha keras mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan cara mengadopsi kurikulum pemerintah. Wahid merasa prihatin dengan kondisi itu karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan ini.
Gus Dur juga prihatin dengan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Pada waktu yang sama ketika mereka membujuk pesantren mengadopsi kurikulum pemerintah, pemerintah juga membujuk pesantren sebagai agen perubahan dan membantu pemerintah dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Wahid memilih batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren.

Abdurrahman Wahid kemudian meneruskan karirnya sebagai jurnalis, dan menulis untuk majalah Tempo dan koran Kompas. Artikelnya diterima dengan baik, dan ia mulai mengembangkan reputasinya sebagai komentator sosial.
Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, membuat dia harus pulang-pergi antara Jakarta dan Jombang, tempat Wahid tinggal bersama keluarganya.
Meskipun memiliki karir yang sukses pada saat itu, Gus Dur masih merasa sulit hidup hanya dari satu sumber pencaharian, dan ia bekerja untuk mendapatkan pendapatan tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es untuk digunakan pada bisnis Es Lilin istrinya.

Pada tahun 1974 Wahid mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas, dan segera mengembangkan reputasi pribadinya. Satu tahun kemudian, Wahid menambah pekerjaannya dengan menjadi guru Kitab Al Hikam.

Pada tahun 1977, Wahid bergabung ke Universitas Hasyim Asyari sebagai Dekan Fakultas Praktek dan Kepercayaan Islam. Sekali lagi, Wahid mengungguli pekerjaannya dan universitas itu ingin agar Wahid mengajar subyek tambahan seperti pedagogi, syariat Islam dan misiologi.
Namun kelebihannya menimbulkan ketidaksenangan dari sebagian kalangan universitas, dan Wahid mendapat rintangan untuk mengajar subyek-subyek tersebut. Sementara menanggung semua beban tersebut, Wahid juga berpidato selama ramadhan di depan komunitas muslim di Jombang.
Nahdlatul Ulama

Latar belakang keluarga Wahid kemudian segera menjadi berarti. Ia akan diminta untuk memainkan peran aktif dalam menjalankan NU. Permintaan ini berlawanan dengan aspirasi Gus Dur dalam menjadi intelektual publik, dan ia dua kali menolak tawaran bergabung dengan Dewan Penasehat Agama NU.
Namun, Wahid akhirnya bergabung dengan dewan tersebut setelah kakeknya, Bisri Syansuri, memberinya tawaran ketiga. Karena mengambil pekerjaan ini, Wahid juga memilih untuk pindah dari Jombang ke Jakarta dan menetap di Ibu Kota. Sebagai anggota Dewan Penasehat Agama, Wahid memimpin dirinya sebagai reforman NU.

Pada saat ituGus Dur juga mendapat pengalaman politik pertamanya. Pada pemilihan umum legislatif 1982, Wahid berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sebuah partai Islam yang dibentuk sebagai hasil gabungan empat partai Islam, termasuk NU.
Wahid menyebut bahwa pemerintah mengganggu kampanye PPP dengan menangkap orang seperti dirinya. Namun, Wahid selalu berhasil lepas karena memiliki hubungan dengan orang penting, di antaranya adalah Jenderal Benny Moerdani.

Pemilu 1999 dan SU MPR

Pada Juni 1999, PKB ikut serta dalam arena pemilu legislatif. PKB memenangi 12 persen suara, sedangkan PDI-P menang dengan raihan 33 persen suara.
Dengan kemenangan partainya, Megawati memperkirakan akan memenangkan pemilihan presiden pada SU MPR. Namun PDI-P tidak memiliki mayoritas penuh, sehingga membentuk aliansi dengan PKB.
Pada Juli, Amien Rais membentuk Poros Tengah, berisi koalisi partai-partai Islam. Poros Tengah kemudian mulai menominasikan Gus Dur sebagai kandidat ketiga pada pemilihan presiden, dan komitmen PKB terhadap PDI-P mulai berubah.

Pada 7 Oktober 1999, Amien dan Poros Tengah secara resmi menyatakan Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden. Pada 19 Oktober 1999, MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie, dan Habibie harus mundur dari pemilihan presiden.
Beberapa saat kemudian Akbar Tanjung, Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR menyatakan bahwa Golkar akan mendukung Gus Dur. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali berkumpul dan mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid kemudian terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya meraih 313 suara.
Tidak senang karena calon mereka gagal memenangkan pemilihan, pendukung Megawati mengamuk, dan Gus Dur menyadari bahwa Megawati harus terpilih sebagai wakil presiden.
Setelah meyakinkan Jenderal Wiranto untuk tidak ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan membuat PKB mendukung Megawati, Gus Dur pun berhasil meyakinkan Megawati untuk ikut serta.
Pada 21 Oktober 1999 Megawati ikut dalam pemilihan wakil presiden dan mengalahkan Hamzah Haz dari PPP. (Sumber: Kominfo Newsroom)(skalaindonesia.com)
GUS DUR MENINGGAL DUNIA


Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Presiden ke4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur wafat.
Presiden ke4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dipastikan meninggal dunia pukul 18.45 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Kabar tersebut dibenarkan putri Gus Dur, Yenny Wahid,

Kondisi kesehatan Gus Dur drop ketika tengah berziarah ke makam Ibu Nyai Fatah di Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. Sebelum ke Jombang, Gus Dur terlebih dulu menyempatkan diri bersilaturrahmi ke kediaman KH Mustofa Bisri di Rembang, Jawa Tengah.

Kamis 24 Desember lalu, Gus Dur sempat dilarikan ke RS Swadana Jombang namun kemudian dibawa ke RSCM, Jumat 25 Desember 2009 Gus Dur dirawat lantaran kadar gula darahnya turun. Selain itu di RSCM, Gus Dur juga menjalani operasi pencabutan gigi.
Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) datang ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Rabu (30/12/2009) petang. Presiden Yudhoyono tiba di halaman RSCM sekitar pukul 18.30 menggunakan mobil kepresidenan dengan pengawalan tidak terlalu ketat, yakni hanya dikawal lima mobil Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Presiden Yudhoyono yang mengenakan kemeja batik berwarna coklat tampak masuk dari pintu utama RSCM langsung menuju kamar tempat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dirawat sejak beberapa hari lalu. Tidak tampak Ibu Negara Ani Yudhoyono mendampingi Presiden. Sekitar 10 menit setelah Presiden tiba, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih datang dengan tampak agak terburu-buru. Ia kemudian segera menyusul ke kamar tempat Gus Dur dirawat yang sedang dikunjungi Presiden.

Meninggalnya Gus Dur dibenarkan sekretaris pribadinya, Sulaiman, Rabu 30 Desember 2009.
Sulaiman menuturkan Gus Dur meninggal didampingi istrinya, Shinta Nuriyah dan anak bungsunya, Inayah.
Pekan lalu saat sedang ziarah ke makam ayahnya, Jombang, Gus Dur sempat anfal. Ia dilarikan ke UGD rumah sakit setempat. Namun Sabtu 26 Desember, Gus Dur dilarikan ke RSCM.
Gus Dur menjalani cuci darah dan mencabut giginya. Gus Dur semula diprediksi hanya diopname dua hari. Namun, kondisinya memburuk dan meninggal dunia.

PEMAKAMAN 

*Wasiat Gus Dur untuk Disholatkan di Masjid Al-Albab Tak Terlaksana


Jenazah  Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab dan populer disapa Gus Dur (69), dimakamkan dengan upacara kenegaraan pada pemakaman keluarga KH Hasyim Asy'ari, di komplek Pesantren Tebung Ireng, Jombang, Jawa Timur.
Prosesi penurunan jenazah ke liang lahat berlangsung sekitar pukul 13.20 WIB setelah Inspektur Upacara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi penghormatan terakhir dan riwayat hidup almarhum dibacakan.

Proses penurunan jenazah ke liang lahat tersebut diiringi dengan gema tahlil "Lailaha illallah" terus-menerus dari massa yang hadir pada upacara pemakaman tersebut, sementara dari kalangan keluarga terdengar suara tangis tertahan.
Acara tabur bunga selain dilakukan keluarga dan anak-anak Gus Dur, juga dilakukan oleh Presiden SBY selaku Inspektur Upacara yang memberi penghormatan dan meletakkan karangan bunga di pusara tokoh yang gigih berjuang menegakkan HAM tersebut.

Prosesi pemakaman tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyampaian pidato Presiden SBY sebagai Inspektur Upacara, yang dimulai pukul 13.36 WIB. Presiden menguraikan betapa Gus Dur memiliki perjalanan panjang dalam perjuangannya mengabdi kepada negara, bangsa dan masyarakat. Gus Dur, kata Presiden, adalah pemimpin Islam yang besar baik di Indonesia maupun di dunia. Presiden juga mengucapkan, selamat jalan Tokoh Pluralis...

Sementara itu, kata-kata dari keluarga disampaikan oleh adik kandung Gus Dur, H Sholahuddin Wahid yang di ujung uraiannya menyampaikan permohonan maaf Gus Dur kepada seluruh umat, sekiranya terdapat kesalahan yang diperbuatnya semasa hayatnya. Dan di akhir penyampaian kata-kata dari keluarga tersebut, sang adik yang akrab disapa Gus Sholah itu tak tahan menahan isaknya.
Usai itu, dilanjutkan dengan doa yang dipanjantkan oleh Menteri Agama RI dan diaminkan oleh ribuan massa pentakziah mulai dari para tokoh sampai masyarakat awam dan para santri. Doa dari Menteri Agama ini dilanjutkan pula dengan doa yang disampaikan oleh ulama NU KH Musthofa Bisri. Setelah itu baru dilakukan penghormatan terakhir secara kenegaraan, sebagai penutup upacara kenegaraan prosesi pemakaman Gus Dur tersebut.

Secara keseluruhan prosesi pemakaman tokoh pejuang pluralistik itu selesai sekitar pukul 14.00 WIB, namun suasana komplek pemakaman hingga sore hari masih tetap ramai. Tidak semua dengan serta merta meninggalkan lokasi, kendati iring-iringan rombongan Presiden SBY telah berlalu.Boleh jadi, massa simpatisan dan massa NU akan terus bertahan di komplek pemakaman untuk bertahlil bersama Kamis malam.
Sebelumnya telah diberitakan, jenazah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur selesai disholatkan pada pukul 12.24 WIB, Kamis 31 Desember 2009, untuk persiapan pemakamannya. Mantan Presiden RI ke-4  yang wafat Rabu pukul 18.45 WIB sehari sebelumnya, akan ditempatkan di persemayaman terakhir dalam pemakaman keluarganya di komplek Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.
Jenazahnya dibawa denang pesawat terbang dari Jakarta, Kamis pagi, dengan upacara pelepasan jenazah dilakukan di rumah duka di Ciganjur dengan pimpinan upacara Ketua MPR RI Taufiq Kiemas. Saat ini di Jombang, prosesi pemakaman Gus Dur sedang berlangsung, yang dilaksanakan  dengan upacara kenegaraan dan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung bertindak sebagai Inspektur Upacara.

WASIAT TIDAK TERPENUHI

Sementara itu, prosesi pemakaman jenazah Gus Dur agaknya berkesan kekurang memuaskan sebagian public. Sebab, selain wasiat Gus Dur sendiri tidak terlaksana, peliputan yang dilakukan oleh pers juga cukup terbatas. Semua itu hanya karena alasan protokoler Negara.

Seperti diketahui, pemakaman Gus Dur ini dilaukan dengan upacara kenegaraan, dengan inspektur upacara langsung dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Disebutkan, Gus Dur pernah memberi wasiat kepada keluarganya, bahwa jika kelak wafat t ia ingin jenazahnya disholatkan di masjid tersebut. Menurut siaran langsung di tvone barusan, sempat terjadi perdebatan antara pihak keluarga almarhum Gus Dur dengan pihak protokoler kepresiden RI.
Keluarga ingin memenuhi wasiat Gus Dur agar jenazahnya disholatkan di masjid tersebut, tetapi pihak protokoler tidak berkenan. Akhirnya jenazah Gus Dur disholatkan di rumah tempat jenazah disemayamkan dan langsung dibawa ke pemakaman.
Selain itu, penjagaan yang dilakukan juga tekesan sangat ketat ruang lingkup liputan pers juga sanga terbatas, sehingga tidak semua detail prosesi pemakaman dapat terliput atau terlihat oleh wartawan dan pemirsa televisi.(int)

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas nama Negara, Pemerintah dan selaku pribadi menyatakan belasungkawa setinggi-tingginya, atas wafatnya Presiden RI ke-4 KH. Abdurrahman Wahid atau yang sangat dikenal sebagai Gus Dur.
Pernyataan itu disampaikan Presiden SBY di depan pers, Rabu malam (30/1/2/2009), berkaitan dengan berpulangnya tokoh pejuang HAM tersebut.

Seperti diberitakan, tokoh mantan Ketua Umum PB NU kelahiran Denanyar, Jombang, 4 Agustus 1940 tersebut wafat sekitar pukul 18.45 WIB Rabu 30 Desember 2009, di RSCM Jakarta. Gus Dur dirawat beberapa hari di RS tersebut, setelah sebelumnya sempat pula dirawat di RS Jombang Jawa Timur karena kesehatannya drop usai berziarah di makam ayahnya, KH Wahid Hasyim.

Prediden SBY mengatakan, bangsa Indonesia telah kehilangan salah seorang putera terbaiknya, seorang tokoh besar. Untuk itu, ia mengajak segenap rakyat negeri ini agar turut mendoakan, kiranya Alllah menerima almarhum sesuai amal ibadah dan pengabdian yang telah disumbangkan almarhum. Sedangkan keluarga Gus Dur, didoakan agar dapat bersabar, berserah diri dan tawakal.
Selain itu, Presiden mengajak pula agar bangsa Indonesia  memberi penghormatan setinggi-tingginya dan mendoakan kiranya almarhum dapat tenang di alam baka. Sedangkan mulai Kamis 31 Desember 2009, Presiden menyerukan agar segenap warga Indonesia mengibarkan bendera Merah-Putih setengah tiang selama 7 hari sebagai tanda bangsa Indonesia berkabung atas kepergian KH Abdurrahman Wahid menghadap sang Khalik.

Menurut Presiden, Rabu malam tersebut pihak Pemerintah terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pihak keluarga Gus Dur tentang rencana pemakaman almarhum di Jombang, Jawa Timur. “Negara akan memberi penghormatan tertinggi terhadap almarhum pada pemakamannya dengan Upacara Kenegaraan yang akan saya pimpin sendiri sebagai Inspektur Upacara,” tandas Presiden SBY.
Presiden juga mengatakan telah berkordinasi dengan pimpinan MPR RI Taufiq Kiemas untuk bisa bertindak sebagai pimpinan dalam pemberangkatan jenazah Gus Dur dari rumah duka di Ciganjur ke Jombang, Jawa Timur, Kamis 31 Desember 2009. Kemudian, bagi yang beragama Islam Presiden mengajak untuk bersama-sama membacakan surah Al Fatiha yang pahala dan hidayahnya ditujukan untuk tokoh besar yang amat kita cintai, KH Abdurrahman Wahid. Ia langsung memimpin pembacaan Al Fatiha tersebut, dan kemudian mengakhiri pernyataannya.

INGIN DIMAKAMKAN DEKAT AYAH

Sementara itu informasi yang diperoleh dari berbagai sumber menyebutkan, Gus Dur pernah mengatakan ingin dimakamkan di dekat makam ayahandanya, KH. Wahid Hasyim yaitu seorang tokoh dan putera pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari yang kakek kandung Gus Dur.
Keinginan itu antara lain pernah dikemukakan Gus Dur kira-kira setahun silam kepada Maman Immanulhaq, salah seorang Dewan Suro PKB. “Itu yang saya ingat,” katanya di sela memberi konfirmasi wafatnya Gus Dur di stasiun Tvone, Rabu (30/12/2009) malam.
Pekan lalu sempat diberitakan, kondisi kesehatan Gus Dur semakin membaik setelah menjalani perawatan di RSCM. Dhohir Farisi, suami Zannuba Arifah Chafsoh putri Gus Dur kala itu kepada wartawan juga sempat mengatakan hal serupa, tetapi memang sebelumnya memang kesehatan Gus Dur sempat drop terutama karena belakangan sering telat makan disebabkan giginya sakit.
Disebutkan, sejak sekitar dua minggu lalu abses gigi geraham kiri bawah Gus Dur bengkak sehingga menggaggu selera makan. Setelah kondisinya di Jombang semakin melemah, Gus Dur diterbangkan ke Jakarta dan dirawat di RSCM.

TERAKHIR KE KANTOR PB NU

Informasi lain menyebutkan Gus Dur untuk terakhir kali mengunjungi kantor PB NU Jalan Kramat Raya Jakarta, pada Minggu 27 Desember 2009. Ketika itu ia ditemani oleh mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menaker Trans) Erman Suparno.
Erman mengatakan, saat itu Gus Dur mengajaknya pergi ke kantor PBNU. Lalu ia bahwa hari itu adalah hari Minggu, biasanya di kantor organisasi berlambat bola dunia itu sepi. Namun Gus Dur menjawab, “nggak apa-apa”, karena ia mau jalan-jalan saja.

Akhirnya, Erman bersama Gus Dur ke PBNU berangka ke kantor PBNU dan memang ternyata sepi, tidak ada orang lain. ''Waktu itu, saya memang menangkap kesan bahwa Gus Dur datang ke kantor PBNU untuk yang terakhir kalinya,'' tutur Erman.
Ketika ditanya apa saja yang disampaikan Gus Dur saat itu, menurut Erman tidak ada. ''Waktu itu Gus Dur cerita-cerita lucu saja,'' ujarnya mantan Menaker itu di RSCM Jakarta, Rabu malam.(skalaindonesia.com)

RANGKAIAN PROSES PEMAKAMAN

Prosesi pelepasan jenazah almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diawali dengan salat jenazah di Masjid Almunawarah sekira pukul 05.30 WIB, Kamis (31/12/2009).

Meski salat dilakukan di masjid, namun jenazah Gus Dur tetap berada di rumah duka. Menurut bagian protokoler keluarga Gus Dur, Murdiati Sulam, pembacaan salawat akan dipimpin oleh KH Said Agil Siraj.

Pada pukul 07.00 WIB, dilaksanakan upacara militer dipimpin oleh Ketua MPR Taufiq Kiemas, yang diawali dengan penyerahan janazah dari keluarga almarhum. Kemudian dibacakan teks penyerahan oleh Alissa Wahid dan Erman Royadi.

Sekira pukul 07.30 WIB, jenazah masuk ke ambulans dan berangat ke Bandara Halim Perdanakusuma. Diperkirakan take of ke Surabaya pukul 08.30 WIB dengan menggunakan pesawat Hercules. Dalam pesawat tersebut turut serta seluruh keluarga inti.

Pukul 12.00 WIB, dijadwalkan tiba di Jombang, lalu dilakukan upacara militer yang diawali tabur bunga oleh keluarga, penimbunan liang lahat secara simbolis, peletakan karagan bunga, sambutan dari pihak keluarga yang dipimpin oleh KH Salahudin Wahid. Diteruskan sambutan dari Presiden SBY dan diakhiri dengan doa.

Selanjutnya, jenazah mantan Presiden RI ini disemayamkan di Kompleks Pemakaman Tebu Ireng. Sebelumnya, Presiden SBY berangkat dari Jakarta pukul 06.30 disusul Wapres Boediono pukul 07.00 WIB dengan pesawat Kepresidenan.(news.okezone.com)

SELAMAT JALAN ,, GUS DUR ,, SMOGA PERJUANGAN DAN SEMANGATMU SELALU TETAP BERKIBAR DI BUMI PERTIWI SELAMANYA......Amin.


Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAH COMEN DULU...
MAKASIH TELAH MEMBERI COMEN DAN WUKTUNYA....
SALAM PERSAHABATAN.....
edy putra Jl.cik lanang62 Kauman Rt04/05 Jepara-59417

KLIK MENDENGARKAN LAGU



Photobucket

CARI ARTIKEL DISINI

Loading

COMENTATOR

CARA MEMBUKA KLIK KANAN PADA BLOG JEPARA BUMI KARTINI
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger