EDY PUTRA jepara Jl.cik lanang Nm.62 Rt.04/05Kauman Jepara jateng-59417. CALL; +6281904645456 , +6281390345437. E-mail ; edy_putra@ymail.com , edyputrajepara@gmail.com Malayani ; LAS , BODY REPAER MOBIL , MESIN , CAT , JASA FINISHING MEBEL , CALTER MOBIL , MEBEL,FURNITUR
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Thursday, November 5, 2009

MELEPAS ANGGODO WIJAYA

KESERIUSAN jajaran Polri mengkriminalkan pelaku percobaan penyuapan Anggodo Wijaya belum sepenuhnya dibuktikan. Jika pada kasus dua Pimpinan KPK Nonaktif, Bibit Samat Rianto dan Chandra Hamzah, polisi dengan mudah menggunakan haknya untuk menahan, tak demikian pada Anggodo Wijaya.

Polri cukup berhati-hati. Azas menjunjung supremasi hukum dan hak asasi manusia betul-betul diperhatikan saat memproses Anggodo. Namun pada saat memeriksa Bibit dan Chandra, azas-azas tersebut tak begitu diperhatikan. Misalnya, saat menetapkan sebagai tersangka polisi tak punya bukti pendukung yang cukup, namun dipaksakan menaikkan status keduanya menjadi tersangka.

Begitu juga saat menahan Bibit dan Chandra, polisi menggunakan alasan sering melakukan jumpa pers dengan wartawan. Polisi khawatir tindakan mereka dapat mempengaruhi opini masyarakat dan menganggu proses penyidikan yang sedang berjalan.

Pasal 21 KUHAP yang menjadi dasar kewenangan alasan penahanan yaitu: dikha-watirkan melarikan diri, menghilangkan bukti dan mengulangi tindak pidana dikesampingkan. Wakabareskrim Mabes Polri Irjen Pol Dikdik dengan sedikit arogan malah menyebutkan, polisi bisa menggunakan hak yang dimiliki untuk menahan Bibit dan Chandra.

Terkait ini Ketua Tim Pencari Fakta (TPF) Adnan Buyung Nasution kemarin sempat mengkritik atas pernyataan Kapolri Jendral Bambang Hendarso Danuri melalui Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Sukarna yang awal-awal mengaku bukti-bukti keterlibatan Anggodo dalam kasus percobaan penyuapan dan upaya mengkriminal-kan dua pimpinan KPK nonaktif belum mencukupi. Maka, dalam waktu 1x24 jam dengan alasan demi hukum, Anggodo harus dibebaskan.

Menurut Buyung, polisi harus bekerja keras mencari bukti pendukung untuk bisa menyeret Anggodo. Bagaimana pun pasca pemutaran rekaman di Mahkamah Konstitusi semua orang bisa menyimpulkan, soal keterlibatan Anggodo dalam upaya kriminalisasi terhadap KPK.

Menurut Buyung, jika polisi tidak bisa membuktikan keterlibatan Anggodo atau melepaskan Anggodo, kecurigaan masyarakat terhadap polisi semakin menguat, bahwa ada sesuatu hubungan yang tidak beres antara polisi dan Anggodo. Sedikit menyentil, Buyung menyebut, sejak kapan polisi tahu menjunjung hak asasi manusia? Jika pada kasus Bibit dan Chandra berbagai cara dilakukan untuk mengkriminalkan keduanya, kenapa pada Anggodo hal itu tidak dilakukan?

Namun yang pasti, polisi lebih memilih alasan demi hukum untuk melepas Anggodo dengan alasan tak cukup bukti. Sekitar pukul 21.30 WIB malam tadi Anggodo sudah bisa melenggang dari gedung Bareskim Mabes Polri. Anggodo sempat main petak umpet dengan wartawan, karena Anggodo keluar secara diam-diam, melalui pintu samping gedung Bareskrim. Hanya sayang sekali, polisi belum mau menggunakan haknya, seperti yang pernah digunakan terhadap Bibit dan Chandra.***

TUTORIAL BLOG , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAH COMEN DULU...
MAKASIH TELAH MEMBERI COMEN DAN WUKTUNYA....
SALAM PERSAHABATAN.....
edy putra Jl.cik lanang62 Kauman Rt04/05 Jepara-59417

KLIK MENDENGARKAN LAGU



Photobucket

CARI ARTIKEL DISINI

Loading

COMENTATOR

CARA MEMBUKA KLIK KANAN PADA BLOG JEPARA BUMI KARTINI
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger