EDY PUTRA jepara Jl.cik lanang Nm.62 Rt.04/05Kauman Jepara jateng-59417. CALL; +6281904645456 , +6281390345437. E-mail ; edy_putra@ymail.com , edyputrajepara@gmail.com Malayani ; LAS , BODY REPAER MOBIL , MESIN , CAT , JASA FINISHING MEBEL , CALTER MOBIL , MEBEL,FURNITUR
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Thursday, November 5, 2009

CICAK ATAU BUAYA

MASIH mendungnya hubungan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan pihak kepolisian Republik Indonesia (Polri) -begitulah kualitas hubungan versi para pengamat, media massa dan penggiat civil society- makin membuat gerah iklim politik di negeri ini. Percakapan tak hanya di tempat-tempat yang di mana politik menjadi topik keseharian atau bagian dari pekerjaan, ruang tradisionil, warung kopi, pasar hingga rumah kontrakan- juga tak mau ketinggalan.
Meskipun berbagai pendapat beresonansi, memantul dan menggema ke sana-kemari, namun intinya tak jauh dari dua hal. Pertama, perseteruan yang disimbolisasikan lewat cicak versus buaya, yang sukses mempengaruhi penilaian masyarakat tentang siapa pihak yang pantas dibela dan siapa yang layak dijadikan common enemies.
Kedua, tentang desakan agar SBY sebagai kepala negara segera turun tangan menyelesaikan persoalan ini. Cicak, bagi penulis tak ada yang lebih menarik selain kemampuan manipulasi dengan ekornya, dan buaya yang diidentifikasi sebagai mahluk predator yang memadukan kekuatan, kekuasaan dan kelihaian. Entah, hewan mana yang punya derajat signifikansi lebih baik, namun penerapan gaya bahasa politik puffery ini, cukup sukses membentuk sebuah citra di benak publik.
Buktinya, masyarakat lebih kasihan melihat cicak daripada buaya. Setakat ini, sebagaimana pemberitaan yang dapat kita simak lewat media massa, SBY masih memilih posisi diam dan membiarkan proses hukum berjalan mencari bentuknya sendiri. Meskipun, di waktu lain, SBY menegaskan akan tetap terus menyimak situasi secara seksama. Sikap SBY inilah, yang diistilahkan pihak-pihak di lingkar kekuasaan sebagai wujud netralitas, membuat gerah para pengamat dan media massa, yang kemudian berupaya mempengaruhi opini masyarakat. Ini terlihat dari kritikan-kritikan yang marak dialamatkan ke SBY belakangan, yang mulai mempertanyakan komitmen SBY dalam memberantas korupsi. Kecantol KPK Fenomena munculnya desakan terhadap SBY tentu tak berlebihan.
Apalagi jika kita melihatnya dari sisi proses terbentuknya opini publik di tengah masyarakat, yang dalam hal ini melibatkan tiga elemen utama, yakni: sistem kepercayaan, nilai dan pengharapan. Tiga elemen inilah yang mempengaruhi opini publik, atau lebih spesifik lagi, tentang pencitraan rakyat terhadap suatu objek dan peristiwa.
Dalam proses komunikasi dalam pribadi (intrapersonal), dalam menginterpretasikan suatu objek, seseorang akan merujuk terlebih dahulu pada citra yang terbentuk dibenaknya lewat pengalaman. Idealnya, jika ada kesesuaian antara harapan dengan suatu objek atau peristiwa yang terjadi, maka akan terbentuk opini positif dalam diri. Berdasarkan itu, jangan heran, seiring semakin kuat tekanan terhadap KPK, malah semakin menguatkan resistensi kepercayaan dan nilai serta harapan masyarakat, bahwa institusi ini adalah pihak yang benar, dan harus didukung penuh. Dalam pembangunan opini publik, akan sangat sulit memang jika berhadapan dengan massa. Karena unsur emosi lebih dominan dibandingkan rasio.
Karena di dalamnya kepercayaan, nilai dan harapan mengambil alih. Persoalan untuk menyeret KPK secara hukum dengan segala dalih akan sulit menemui rasionalisasinya, terlebih jika pihak kepolisian tidak punya muatan dakwaan dan momen yang bernilai signifikan. Salah-salah, bisa jadi efek bumerang bagi pihak Polri sendiri. Kembali ke sikap SBY, menyerahkan hasil kepada proses hukum. Tetapi, pendekatan prosedural ini sepertinya belum dapat diterima oleh rakyat kebanyakan.
Karena, rakyat, dalam memandang barometer kepemimpinan, masih bersifat parokial kaula. Sebagai bentukan sistem sosial, paradigma ini mengekspresikan bentuk penyerahan secara sentral dan total pengikut kepada pemimpin untuk menyelesaikan setiap persoalan. Dari kacamata komunikasi politik, peran SBY sebagai komunikator politik primer dalam sistem negara, kata intervensi adalah pilihan rumit daripada yang dipikirkan masyarakat. Ini terkait dengan point of authority yang dimiliki SBY.
Sehingga, apapun dia lakukan adalah bagian dari pembicaraan kekuasaan -di samping juga, barangkali, menghindari upaya bereaksi terhadap hasil rekaman yang membawa-bawa nama presiden. Istilah pembicaraan kekuasaan tak dapat dipisahkan dari upaya mempengaruhi.
Pembicaraan tentu tak hanya komunikasi verbal dan non verbal, tapi juga simbol-simbol lainnya. Untuk itu, bisa jadi diundangnya tokoh bangsa oleh SBY baru-baru ini guna dimintai pendapat, merupakan simbol atau tanda intervensi SBY, dengan menggunakan pendapat tokoh (unofficial spokes person) sebagai bentuk tindakan mempengaruhi opini publik.
Cicak Atau Buaya?
Berangkat dari kondisi tersebut, disinilah sumber dilema SBY. Kecenderungan bahasa kekuasaan berhadapan dengan kepercayaan, nilai dan harapan sebagian besar rakyat, yang sudah terlanjur kecantol dengan citra KPK. Praktis, ketika harapan rakyat kebanyakan bahwa agar KPK tidak dibiarkan begitu saja tak sesuai dengan tindakan yang diambil SBY, maka rakyat akan membuat penilaian cenderung negatif. Begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, netralitas SBY ini mempunyai kesan tersendiri. Mengacu pada pendapat seorang ilmuwan sosial, Peter Farb, bahwa proses opini publik ibarat sebuah permainan.
Konsekuensinya, akan ada pemain yang terlibat di dalamnya. Dalam proses opini publik kriminalisasi KPK, tuntutan agar SBY intervensi secara langsung dengan berbagai macam tawaran cara, bisa jadi salah satu upaya untuk melibatkan SBY dalam permainan ini. Sebagai bentuk permainan, sudah barang tentu ini mempunyai sebuah tujuan akhir, dengan berbagai vested interest. Terlebih dalam posisi vis a vis antara KPK dan kepolisian seperti yang dapat kita saksikan saat ini, pilihan yang ditawarkan permainan ini bagi SBY adalah sikap kecenderungan, yang di sini diwakili dua simbol, cicak atau buaya.
Dan, tentu kecenderungan itu tampak lewat lisan, tulisan atau penggunaan simbol-simbol yang mempunyai makna signifikan sebagai bentuk dukungan. Wallahualam.***
Oleh Yuda Indra, akademisi/staf pengajar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau

TUTORIAL BLOG ,MEBEL antik , GAME online , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC , MY FACEBOOK

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAH COMEN DULU...
MAKASIH TELAH MEMBERI COMEN DAN WUKTUNYA....
SALAM PERSAHABATAN.....
edy putra Jl.cik lanang62 Kauman Rt04/05 Jepara-59417

KLIK MENDENGARKAN LAGU



Photobucket

CARI ARTIKEL DISINI

Loading

COMENTATOR

CARA MEMBUKA KLIK KANAN PADA BLOG JEPARA BUMI KARTINI
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger