EDY PUTRA jepara Jl.cik lanang Nm.62 Rt.04/05Kauman Jepara jateng-59417. CALL; +6281904645456 , +6281390345437. E-mail ; edy_putra@ymail.com , edyputrajepara@gmail.com Malayani ; LAS , BODY REPAER MOBIL , MESIN , CAT , JASA FINISHING MEBEL , CALTER MOBIL , MEBEL,FURNITUR
Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Wednesday, August 19, 2009

RADEN AJENG KARTINI | KARTINI | IBU KITA KARTINI

JEPARA BUMI KARTINI


Siapa yang tak mengenal ibu kita kartini,siapapun pasti akan mengenalnya yang setiap tgl 21 april selalu diperingati.
Kartini lahir dalam sebuah keluarga ningrat di jawa ketika pulau Jawa masih dijajah oleh Belanda. Ayah Kartini, Raden Mas Sosroningrat, menjadi pemimpin (Bupati) Jepara, dan Ibunya adalah istri pertama Raden Mas Sosroningrat, tapi bukan istri yang utama. pada waktu itu poligami merupakan hal yang biasa bagi kaum ningrat.


SEJARAH
Ayah kartini sebenarnya adalah Kepala daerah Mayong. Ibunya, MA Ngasirah anak perempuan dari Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di telukawur, Jepara, dan Nyai Haji Siti Aminah.Yamg pada waktu itu, peraturan-peraturan penjajah menetapkan bahwa seorang bupati harus menikah dengan orang dari keturunan bangsawan. dan karena MA Ngasirah bukan keturunan bangsawan kelas atas, Ayah Kartini menikah untuk yang kedua kalinya dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan Raja Madura. setelah pernikahan keduanya, ayah Kartini diangkat menjadi kepala daerah Jepara, menggantikan Istri kedua ayahnya, RAA Tjitrowikromo.

KARTINI
adalah anak ke-5 dan anak perempuan tertua dari sebelas bersaudara, termasuk saudara tiri. Kartini lahir dalam sebuah keluarga yang berintelektual tinggi. Kakeknya,Pangeran Ario Tjondronegoro Iv,menjadi bupati pada umur 25 tahun ketika kakak tertua kartini, Sosrokartono, adalah seorang ahli bahasa yang pandai.

Keluarga Kartini mengijinkan Kartini untuk tetap sekolah sampai dia berumur 12 tahun. Kartini cakap dalam berbicara bahasa Belanda, sebuah kepandaian yang tidak biasa bagi seorang wanita jawa pada waktu itu. setelah dia berumur lebih dari 12 tahun, dia dipingit di rumah, sebuah kebiasaan yang dilakukan keluarga bangsawan jawa, untuk persiapan para gadis sebelum mereka menikah. Selama dalam masa pingitan, para gadis tidak diijinkan untuk meninggalkan orang tua mereka sampai mereka menikah. Ayah Kartini lebih lembut kepada Kartini dibanding anak-anak perempuannya yang lain selama kartini dipingit, memberikanya hak-hak istimewa, seperti belajar menyulam dan kadang-kadang tampil di depan publik dalam acara yang spesial.,selama Kartini dipingit, dia meneruskan pendidikannya sendiri. Karena dia dapat berbahasa belanda, dia mempunyai beberapa teman pena dari Belanda. salah satu dari mereka adalah seorang perempuan yang bernamaRosa Abendanon menjadi teman terdekatnya. buku-buku, koran dan majalah Eropa membuat dia tertarik dengan pemikiran perempuan-perempuan Eropa, dan membantu hasratnya untuk memperbaiki kondisi perempuan pribumi yang pada waktu itu mempunyai status sosial yang sangat rendah.
Kartini tidak hanya perhatian pada hal emansipasi wanita saja, tapi juga masalah-masalah masyarakatnya. Dia melihat bahwa perjuangan wanita untuk mendapatkan kebebasannya, otonomi dan persamaan hak menjadi bagian sebuah pergerakan yang lebih luas.

Orang tua Kartini mengatur pernikahannya dengan Raden Adipati Joyodiningrat,Bupati Rembang, yang sudah mempunyai tiga istri. Dia menikah pada 12 November 1903. Hal ini bertentangan dengan keinginan kartini, tapi dia setuju untuk meredakan sakit ayahnya. Suaminya mengerti maksudnya dan mengijinkannya untuk mendirikan sekolah khusus bagi wanita di serambi timur komplek perkantoran pemerintahan Rembang. Satu-satunya anak Kartini lahir pada 13 September 1904. beberapa hari kemudian pada 17 September 1904, Kartini meninggal pada umur 25 tahun. Dia dimakamkan di Bulu, Rembang.

terinspirasi oleh contoh Kartini, Keluarga Van Denter membangun yayasan Kartini yang dibangun untuk wanita,"kartini's School" di Semarang pada 1912, diikuti oleh sekolah sekolah wanita lain di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah-daerah lainnya.

pada 1964, presiden Soekarno menetapkan tanggal kelahiran Kartini,21 April, sebagai Hari Kartini", hari besar Nasional di Indonesia. Keputusan ini mendapat kritikan. Hari Kartini diusulkan seharusnya dirayakan bersamaan dengan hari ibu Indonesia, 22 Desember, sehingga pilihan menjadikan Kartini menjadi pahlawan nasional tidak membelakangi wanita lain, selain Kartini, yang ikut berjuang menentang penjajah.
SURAT-SURAT setelah kartini meninggal, Mr. JH Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama dan Industri di Hindia Belanda, mengumpulkan dan mempublikasikan surat-surat yang dikirimkan Kartini kepada teman-temanya di Eropa. Buku yag diberi judul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap terbitlah Terang) dipublikasikan pada 1911. buku itu terbit lima edisi, dengan termasuk surat-surat tambahan di edisi terahir, dan diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh Agnes L. Symmers dan dipublikasikan dengan judulLetters of a Javanese Princess (Surat-surat dari seorang putri jawa).

Ada beberapa ucapan yang meragukan keaslian surat-surat Kartini. Ada dugaan bahwa Abendanon memalsukan surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena buku-buku Kartini dipublikasikan pada waktu ketika pemerintahan penjajah Belanda menerapakan "kebijakan-kebijakan beretika" di hindia Belanda, dan Abendanon adalah salah satu orang yang paling mendukung kebijakan ini. Kebanyakan surat-surat kartini sekarang tidak diketahui tempat keberadaanya. Terahir, menurut Sulastin Sutrisno, Pemerintahan Belanda tidak dapat melacak keturunan JH Abendanon.

KONDISI WANITA INDONESIA
Didalam suratnya, Kartini menulis mengenai pandangannya tentang kondisi sosial yang sedang berlaku pada saat itu, terutama kondisi wanita-wanita Indonesia. Mayoritas surat-surat Kartini memprotes tentang kebudayaan Jawa yang melarang wanita untuk berkembang. Dia menginginkan para wanita mempunyai kebebasan untuk belajar. Kartini menuliskan ide-ide dan cita-citanya, termasuk perikemanusiaan dan nasionalisme.
Surat-surat Kartini juga mengungkapkan harapannya untuk mendukung dari luar negeri. Dalam surat-menyuratnya dengan Estell "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkapkan hasratnya untuk menjadi seperti anak muda Eropa. Dia menggambarkan penderitaan wanita jawa terbelenggu oleh tradisi, dilarang belajar, dipingit, dan harus siap berpoligami dengan laki-laki yang mereka tidak kenal.

BELAJAR DAN MENGAJAR LEBIH JAUH
Kartini sangat menyayangi Ayahnya walaupun itu jelas bahwa kasih sayangnya untuk ayahnya menjadi halangan untuk mewujudkan cita-citanya. Dia telah mengijinkan Kartini untuk meneruskan sekolah sampai umur 12 tahun tapi untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi benar-benar tertutup. Di dalam surat Ayahnya, diajuga mengungkapkan kasih sayangnya pada Kartini. Akhirnya, dia mengijinkan Kartini untuk belajar menjadi seorangguru di Batavia(sekarang Jakarta), walaupun sebelumnya dia telah melarang Kartini untuk mealanjutkan pendidikannya di Belanda atau memasuki sekolah kesehatan di Batavia.

Hasrat Kartini untuk melanjutkan pendidikannya di Eropa juga diungkapkan di dalam suratnya. Beberapa teman penanya berusaha atas kepentingannya untuk mendukung Kartini dalam ikhtiar ini. Dan akhirnya ketika cita-cita kartii dihalangi, banyak teman-temannya mengungkapkan kekecewaannya. pada akhirnya, rencananya untuk belajar di Belanda dirubah menjadi rencana perjalan ke Batavia atas nasehat Ny. Abendon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adik perempuannya, Rukmini.

Meskipun begitu, pada 1903 di umur 24, rencananya untuk belajar menjadi guru di Batavia sia-sia. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini menuliskan bahwa rencananya ditinggalkan karena Kartini harus menikah... "dalam waktu dekat, saya tidak mempunyai hasrat lebih lama untuk mengambil keuntungan atas kesempatan ini, karena saya akan menikah..". walaupun faktanya demikian, departemen pendidikan Belanda ahirnya memberikan ijin pada kartini dan Rukmini untuk belajar di Batavia.

Mendekati pernikahannya, sikap Kartini terhadap adat tradisional Jawa mulai berubah. Dia menjadi lebih toleran. Dia menjadi merasa bahwa pernikahannya akan membawa keberuntungan terhadap cita-citanya untuk membangun sekolah bagi wanita pribumi, tapi dia juga menyebutkan bahwa dia akan menulis sebuah buku. Sayangnya, cita-citanya ini tidak terwujud karena Kartini meninggal lebih dulu pada usia 25 tahun.
Sumber :  www.gojepara.com


PAHLAWAN PEJUANG PARTISIPASI WANITA DARI 'JEPARA'  ,,,,, Salam Blogger


TUTORIAL BLOG , BENGKEL MOBIL , ISLAMIC

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAH COMEN DULU...
MAKASIH TELAH MEMBERI COMEN DAN WUKTUNYA....
SALAM PERSAHABATAN.....
edy putra Jl.cik lanang62 Kauman Rt04/05 Jepara-59417

KLIK MENDENGARKAN LAGU



Photobucket

CARI ARTIKEL DISINI

Loading

COMENTATOR

CARA MEMBUKA KLIK KANAN PADA BLOG JEPARA BUMI KARTINI
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger